Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desain Harus Bersandar pada Teori?

diskusi-cyan-parentialism-esensialism

MIRMAGZ.com – Desain tidak berhenti pada wilayah-wilayah bentuk yang estetis saja. Namun justru desain yang menyentuh ide, yang ditawarkan kepada klien-lah yang mampu dijual dengan harga yang lebih tinggi. Memiliki benefit yang lebih, dibandingkan hanya sekedar bentuk poster, logo, banner, web, misalnya.

Kali ini ruang Cyan memberikan pandangan dari mana bentuk-bentuk dari desain yang tidak hanya sekadar referensi visual, namun juga teoritikal, untuk mencapai titik pemikiran kritis dalam desain melalui pandangan pendidikan perenalisme dan esensialisme.

Tidak hanya sekedar mengikuti tren dari trensetter, namun juga mampu menampilkan karya yang memiliki kebaruan, terlebih dominasi pengetahuan saat ini sudah bergeser ke arah postmodern.

Baca juga:  Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desainer Terjebak pada Kesadaran Masa Lampau?

Pengantar

Kalau hidup ini tentang mempelajari dunia dan manusia, apakah artinya kita semua itu harus mengerti pendidikan? Pentingkah kita belajar dari pemikiran-pemikiran besar masa lalu? Perlukah kita mengetahui nilai-nilai abadi dalam hidup? Apakah pendidikan itu tentang ilmu pengetahuan atau perlu bersifat religius juga? Adakah subjek yang esensial yang wajib diketahui manusia?

Pematik diskusi tentang pentingnya sebuah pengetahuan tentang jalan pemikir dari masa lalu, dibahas dalam ruang diskusi kali ini. Konsep yang digunakan adalah perenalisme dan esensialisme. Dua konsep yang digunakan sepanjang diskusi pada Sabtu, 3 Juli 2021 dari jam 13.00-14.00.

diskusi-cyan-parentialism-esensialism
Apakah dalam desain ada prinsip “standing ont the shoulder of giant”? Apakah ada keterampilan yang bersifat esensial dan non-esensial dalam desain?

Diskusi berjalan diawali pemaparan oleh Syarif Maulana dan Eka Sofyan Rizal, dalam paparannya tentang pendidikan secara umum, dan pendidikan desain hari ini. Perenialisme pendidikan adalah salah satu aliran dalam pendidikan yang muncul pada abad ke-20an.

Melalui pandangan ini, pendidikan desain dikritik untuk mencapai titik kritisnya. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialisme adalah jalan yang mundur ke belakang, yaitu dengan memakai kembali nilai-nilai serta prinsip-prinsip umum yang sudah menjadi pandangan hidup yang kuat, kuku pada zaman kuno dan abad pertengahan. Menurut kaum parenialisme, pendidikan harus lebih banyak fokus pada kebudayaan ideal yang teruji serta tangguh.

Baca juga:  Cara Mengkaji Karya Seni Rupa: Estetika-Mayer Schapiro dan Kritik Seni-Feldman

Parenialisme memandang pendidikan sebagai jalan pulang atau suatu proses untuk mengembalikan manusia ke dalam kebudayaan yang ideal. Bahkan untuk pendidikan desainpun, ada yang mengarah ke wilayah-wilayah dari perenialisme, ada kecenderungan desainer terjebak pada masa kekinian, tanpa mengetahui konstruksi bentuk masa depan desain itu sendiri.

Sehingga banyak desainer yang lulus dari pendidikan desain, malah jadi tukang gambar, dibandingkan sebagai pemikir ilmu desain itu sendiri.

Sedangkan, Esensialisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa suatu entitas memiliki karakteristik yang inheren dan melekat sehingga tidak dapat dipisahkan dengan entitas tersebut dan sekaligus mendefinisikannya.

Ini mencakup keyakinan akan esensi, yaitu apa yang membuat sesuatu adalah sesuatu tersebut, berlawanan dengan kontingensi, yaitu sesuatu yang hanya kebetulan, yang ketiadaannya tidak akan meniadakan sesuatu tersebut. Pembahasannya tentang Filsafat Desain, untuk menuju pada bentuk-bentuk esensial yang perenalisme sekaligus juga esensialisme itu sendiri.

Tidak perlu dipertentangkan perenalisme, esensialisme dan progresivisme, karena mereka memiliki jalannya sendiri, yang perlu dilakukan adalah tidak perlu terlalu fanatik pada suatu aliran. Keduanya penting, dalam arti, sebagai jangkar, seperti, kalau orang rusia ditanya sastrawan, Tolstoy, secara umum sudah diketahui siapa mereka, Anna Karerina dari Tolstoy misalkan, untuk anak kecil bentuk desainnya seperti apa.

Kalau mahasiswa di Indonesia memahami Pram, belum tentu tahu, susah untuk memahami “babon” (dari parenialisme) itu sendiri, karena tidak paham yang babon, yang parenial, dan esensial, jadi terlampau praktis, pragmatis dalam arti yang kurang baik.

Dewasa ini, pendidikan hanya untuk “survival” saja, memang seharusnya bisa menghargai high class pengetahuan. Sastra, pemikiran, filsafat. Tidak masalah, apabila orang belajar kemampuan dasar, pasti pengen anak bisa belajar dasarnya dahulu sampai kuat, baru dihadapkan pada kasus-kasus tertentu, dengan cara pandang khusus.

Marwah pendidikan yang hari ini berkembang jadi kurang, pendidikan harus melahirkan bukan hanya kemampuan teknis, namun membentuk mentalitas, pola pikir, seperti contoh-contoh terdahulu yang sudah mapan, pemikir yang hari ini dianut sebagai bagian dari ilmu pengetahuan.

Baca juga:  Nilai Seni dari Pandangan Jakob Soemardjo

Diskusi: Arah Pendidikan

Pendidikan (desain, khususnya) bertanggungjawab pada hal-hal kebaikan, namun semangat seperti ini malah menjadikan pendidikan desain sepertinya tidak laku. Karena industri yang dikejar, akhirnya membuat desianer hanya disiapkan sebagai tukang, bukan sebagai pemikir.

Sumber pengetahuan yang hari ini diajarkan, secara wawasan sudah banyak lebih sumber dari dunia digital untuk memahami kehidupan. Justru wawasan dari luar pendidikan desain, menjadi pengembangan “pengetahuan apa” yang menjadi tugas pendidikan, tidak sekedar memberikan kemampuan teknis, namun konseptual yang esensial.

Self-Discovery, lebih penting untuk menjadi dipelajari dibandingkan “banking system“, sebuah sistem yang hanya menyimpan, tidak mengembangkan. Apalagi dalam desakan teknologi informasi hari ini, fungsi pendidikan yang tadinya moderasi, menuju untuk membantu pembelajar untuk mencapai konstruksi berfikir, terutama berfikir kritis.

Pengajar harus memahami konsep filsafat pendidikan, dinamika berfikir kritis atau critical thinking, apakah itu sebuah ide, sebuah esensi, sebuah fenomena, teknologi, dll.

Pendidik dituntut untuk tau peta konsep esensialnya dimana, “yang itu tuh” adalah itu, supaya transfer pikiran ke peserta didik bisa mulai, bisa merefleksikan konstruksi pikirannya ke pelajar, bukannya menanamkan pola pikir saja.

Harusnya pengajar memberikan semacam pertimbangan-pertimbangan untuk jalan berfikir dari peserta didiknya, dari orang tua, dari guru, dosen, yaitu tentang apakah dia bisa diberikan sebuah refleksi semacam apa yang dibutuhkan oleh peserta didik melalui pemikirannya.

Bukankah, kita membutuhkan figur lain untuk mengoreksi figur kita, kan? Pengajar sebagai penjembatan antara pengetahuan dengan peserta didik.

Adanya Kampus Merdeka, adalah usaha untuk penyimbangan, untuk mengarah ke progresive, kampus yang menyatu dengan masyarakat. Corong kecilnya, bersatu dengan Industri, bagaimana pendidikan itu bersatu dengan masyarakat.

Perenial dan esensial, melatih kita untuk berfikir kritis. Ketika membaca Plato, 400 SM, yang sudah memikirkan hal-hal filsafat, kita tentu akan mendapat yang tidak sekedar “dunia ide” saja, namun apa yang dimaksud Plato dengan dunia ide itu mampu kita bedah, dan ternyata ada banyak celah yang bisa kaji lebih jauh lagi.

Memahami tentang konsep yang sifatnya nilai-nilai abadi, ada tokoh-tokoh yang dipelajari pola pikirnya, bukan hanya strukturnya saja, namun juga memahami cara berfikirnya, bagaimana latar belakang berfikir, mengapa bisa mengungkapkan dunia ide.

Kampus merdeka ada strukturnya, masalah teknisnya adalah menghadapi cara berfikir. Yang dikejar oleh ilmu pengetahuan, yang dicari adalah tegangan-tegangan, supaya tetap terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Jangan terjebak pada hal-hal yang memenjara kita.

Perenial akan selalu dipertentangkan pada pemikiran Progresif, karena memang munculnya karena ada pemikiran progresif, semakin mengklaim progresif, akhirnya semakin menjadi penerenial, semakin menjadi babon yang dianut oleh banyak orang.

Ketika menjadikan pola pikir tertentu sebagai acuan, di sisi lain, bisa sangat klasik, bisa selalu relevan, dalam dua kutub tersebut ada yang bisa saling berkontradiksi, namun juga saling berkolaborasi dan saling mendukung.

Harus dilihat apa yang dilakukan pada tujuan diawal, namun di dekonstruksi ketika perjalanan. Memiliki jangkar yang kokoh, untuk mendiskripsikan sesuatu. Ibarat pemain musik bisa bermain tanpa latihan, sebenarnya merupakan hasil berlatih seumur hidup.

Mau gimana (tujuannya) nanti oke, yang ngomong gimana (tujuannya) nanti, punya dasar dengan pelbagai pengalamannya, supaya tidak terombang-ambing hanyut.

Ada kombinasi menarik, dari sisi konsep, yang hampir semua pendidikan, konsepnya adalah mempersiapkan seseorang mendapatkan modal untuk menghadapi kehidupan.

Bisa dilakukan dengan dua pendekatan memotivasi orangnya dari tujuan (ada nilai idealnya)/profil lulusan dll, atau konsep yang tidak ada nilai ideal, sifatnya berupa responsif, terbuka, mahasiswa bebas mata kuliah sesuai dengan yang diminati, menerjemahkan kurikulum sebagia pilihan bebas. Mungkin dialektika seperti ini yang dikejar oleh kampus merdeka.

Kombinasi antara berangkat dari sebuah tujuan, namun juga mengubah tujuan sesuai dengan pertimbangannya. Ini semacam suatu lembaga pendidikan, mewadahi kemungkinan mendapatkan sesuatu yang baru dalam tujuan yang baru juga.

Baca juga:  Ombak Perubahan: Seni dalam Gelombang Kekinian

Perenial, Esensial dan Berfikir Kritis

Perenial dan esensial membantu kita untuk berfikir kritis. Lapangan berfikir kita, diperluas oleh cara-cara pikir yang kita bisa dapat dari pikiran-pikiran pemikir sebelumnya. Sehingga kita memiliki cara berfikir yang luas. Misalkan ketika menghadapi fenomena, dengan cara berfikir para pemikir orang-orang lampau.

Contoh lain, untuk sekolah, kita bisa melihat dari materialisme, Marxis, bahwa struktur itu penting, bukan hanya pendidikan yang masa lalu. Masihkah lembaga pendidikan, berasaskan cinta kasih sayang, misalkan. Masihkah mempertimbangkan nilai-nilai kebebasan/demokrasi, bahwa setiap orang memiliki pemikiran, dan menyatakan pemikiran, dan bereaksi atas pemikirannya, ada untuk melihat kondisi saat ini kedepan, dari segi pendidikan.

Dalam desain yang esensi adalah prinsip-prinsip desain; elemen dasar, komposisi, tanpa terjebak pada aturan-aturan tampilannya. Misalkan kita tau bahwa ada sebuah figur dalam komposisi. Maka jangan terlalu tegas antara figur and gram-nya. Komunikasi (visual) untuk anak SMP, jangan terlalu tegas, namun apabila membuat komunikasi (visual) untuk orang tua yang jiwanya konservatif, kalau bisa setegas mungkin.

Akhirnya prinsip-prinsip esensialisme ini ketika menghadapi permasalahan, menjadi relatif. Kadang-kadang diterjemahkan sebagai titik tolak, bukan sebagai aturan. Misalkan dalam logo, ada keterbacaan (readibility) atau visibility (kelugasan tampilan) maka kita akan terjebak pada harus terbaca dan visible. Akhirnya seluruh solusi diimplementasinya harus readible dan visible.

Padahal ada lembaga-lembaga yang ingin prinsip logonya menurunkan prinsip visibility yang tinggi. Misalkan untuk tema humble, banyak menggunakan huruf kecil, untuk menangkap esensi sebagai semacam upaya untuk segala sesuatu secara lebih bijaksana.

Faktor-faktor dalam esensi, sebagai tolak ukur sebagai permasalahannya. Tapi dia tidak bisa membangun konsep, karena konsep itu tergantung permasalahannya. Pendekatan pemahaman tentang konteks, agak berbeda dengan esensi. Kalau esensi, nuansa kebenaran universalnya tinggi, kalau dalam desain, mengarah kepada perenial dan esensial.

Baca juga:  Seni dan Ilmu Seni: Sebuah Pengantar
Helvetica
Font yang didewakan untuk semua komunikasi, padahal tidak semua, sumber: https://www.myfonts.com/fonts/linotype/helvetica/

Misalkan, semua solusinya kebanyakan, pakai Helvetica, atau tegas, dingin. Akhirnya tidak “apapun konteksnya, solusinya itu.” Kita bisa gunakan katakan “I Love You” bold, maka kesan tegas akan muncul. Kalau mengatakan “I Love You” dengan Helvetica light, bisa untuk mengesankan kata cinta dengan kelembutan.

Awas anjing galak, harusnya menggunakan huruf yang “anjing” dan “galak” juga. Dalam pendidikan perenial esensial itu penting untuk memahami segala sesuatu yang menyangkut arah penggunaan desain pada tataran aplikatifnya. Ada fenomena yang dianggap penting, bukan hanya nilai yang universal, yang digunakan dalam menjawab permasalahan desain.

Ada inspirasi yang bisa menjadi upaya, sebagai tolak ukur atau jangkar yang mengingatkan kita pada sebuah kesadaran bahwa, jangan-jangan sekolah kita, guru-gurunya kurang kritis. Atau guru-gurunya kurang memahami pola pikir yang ada dalam konsep mendidik orang. Muncul mengkritisi pendagogi, andagogi, bukan hanya cara mendidiknya, namun format pendidikannya apakah sesuai dengan prinsip-prinsip mengapa sekolah itu ada atau eksis? Ini menjadi penting untuk konstruksi berfikir dari sebuah sekolah.

Dalam belajar filsafat, orang suka bermasalah terlalu perenial, misalkan orang juga menjadi gagal untuk menerapkan Kant, bercita-cita untuk menjadi Kant, karena kita terjebak pembacaan pada si Kant. Seharusnya apabila kita menyontek Nietzsche, kita harus melampaui Nietzsche-nya.

Memang perlu pemahaman yang cukup untuk pemikiran dari seorang pemikir. Malah justru ketika dibaca, semakin dalam, semakin menemukan kelemahan, unsur dialektik akhirnya juga penting untuk mencapai itu. Supaya tidak tersesat, dan terjadi kesalahan masa lampau lagi.

Ada “harapan” untuk menemukan pemikiran, ada insight yang timbul tentang harapan ketika kita mendapatkan kehidupan kita untuk lebih baik. Ujung dari imajinasi, dari yang tiada menjadi ada. Kita butuh invensi di wilayah pandemi, untuk solusi hari ini, tidak lagi tertanggulangi dengan lambat. Misalkan, penyadaran tentang pandemi, bagaimana menjadikan orang yang tidak sadar, bingung, menjadi lebih bijaksana untuk mengahadapi pandemi ini.

Baca juga:  Bentuk Estetik pada Seni

Usaha untuk Mencapai Titik Kritis: Diskusi Cyan

Perjuangan Cyan, diberi kekuatan untuk terus survive, perlu ada lembaga yang memiliki kedalam berfikir tentang esensial, lembaga ini dibentuk dikoleksi semacam pola pikir yang jelas, dengan mengidentifikasi problem-problem-nya, pola identifikasi problem, dengan adanya diskusi, supaya terbentuk semacam pola pikir yang konstruktif terhadap permasalahan kongkrit untuk meniti jalan ke wilayah itu.

Setelah memahami, memiliki kedalaman pola pikir kritis, dilanjutkan membuat ide-ide dan konsep-konsep untuk menerjemahkan ini secara sehat, dialektis, terhadap permasalahan yang ada di lingkup pendidikan dan personal.

Ada hal-hal yang penting, yang dipahami, tentang konstruksi pemikiran untuk memudahkan publik apa aja yang memahami untuk publik disediakan oleh Cyan. Dengan membaca secara singkat, memahami pola pikir yang ada di Cyan. Yang menurut Cyan, tidak banyak terdapat di lembaga-lembaga pendidikan lain. Kebanyakan pembahasan sesuatu yang konkret, harus mencari terus bagaimana caranya supaya pemahaman ini dapat disebarkan.

Banyak kurikulum pendidikan, termasuk pendidikan tinggi yang berhenti pada narasi mata kuliahnya. Kita tidak tahu isi mata kuliahnya arahnya kemana. Kalau judul-judul Mata Kuliah (MK), bahwa akan mengarah ke mana, misalkan ada di internet juga ada, kalau ikut lembaga pendidikan mata kuliah basic sudah dibuka, akhirnya MK basic sudah dibuka, mata kuliah basic memang untuk publik.

Masalah prinsip dibuka untuk MK. Edukasi secara prinsip itu milik publik, lembaga edukasi masing-masing memiliki keistimewaan pola pikir, tanpa tau arah pendidikan itu kemana, jangan mengulang kembali problem itu. Caranya dengan menerapkan prinsip dialektika, bagaimana caranya membuat lembaga tidak dijadikan musuh oleh lembaga lain.

Orang mendefinisikan lembaga pendidikan itu musuhan, padahal bukan musuhan, yang dicari adalah “apa yang unik”. Bagi Cyan, orang membuat bisnis, juga orang tersebut membuat pendidikan, mendidik masyarakat tentang nutrisi melalui bisnis misalkan.

Lembaga itu kreatif, akan menjadi lembaga pendidikan secara tidak langsung. Warung kopi yang tidak hanya sekedar warung dan kopi;  kantor desain yang mendidik, membuat tim yang saling berkolaborasi, dan lain sebagainya.

Semacam Penutup

Esensi pendidikan, adalah memprediksi, adanya eksperimen, masa depan lulusan, memprediksi seseorang ketika lulus dari lembaga, apakah nanti modal-modal yang dimiliki bisa menjawab tantangan masa depan dari peserta didik.

Dalam desain, apa itu good design, orang kebanyakan menangkap kebanyakan orang good design. Good design itu sebagai sebuah tampilan. Tampilan good design, kayak gimana sih good design, itulah yang menjadi standar bagi dosen. Ini akan sesuai pemikiran pengajar. Sebenarnya good design itu tidak ada. Dia itu semacam penjara yang menyebabkan ilmu desain, begitu-begitu saja.

Desain itu penciptaan nilai untuk suatu problem. Desain hari ini lebih banyak, dimaknai sebagai penambah nilai, nilainya sudah dibentuk, nilai-nilainya ditambah. Misalkan lebih indah, lebih bagus, penciptaan nilai menyangkut etika. Semacam membuat etika baru, terhadap sesuatu. Bagaimana membuat warung kopi yang gak kayak warung kopi. Warung kopi yang lebih hebat hanya butuh estetika, bukan dalam kontes kecantikan desain.

Bagaimana cara membuat lembaga pendidikan yang tidak seperti lembaga pendidikan. Turunannya dalam penciptaan nilai baru, akan mempengaruhi keseluruhan, dari materialism, budaya kampus, cara memaknai juga berubah dari biasanya.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

1 thought on “Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desain Harus Bersandar pada Teori?”

  1. Pingback: Resume Diskusi Ruang Cyan: Pendidikan Berbasis Siswa (Progresif) - Mirmagz

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.