Postmodern: Istilah Kabur yang Dijelaskan oleh Bambang Sugiharto

MIRMAGZ.com – Postmodern merupakan istilah yang ambigu, banyak digunakan untuk mendefinisikan suasana yang serba menghantam pemikiran yang telah ada. Istilahnya banyak digunakan oleh penganut Dekontstruksi.

Namun dia merupakan rimba belantara yang memiliki kedalaman dengan berbagai satwa fauna didalamnya, maka bisa disebut bahwa postmodern akan selalu dengan ketidakjelasannya. Mungkin saja berakar pada ketidakjelasan makna “modern” itu sendiri.

Baca juga:  Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desainer Terjebak pada Kesadaran Masa Lampau?
Buku PostmodernL Tantangan Bagi Filsafat
Sugiharto, I. Bambang. Postmodern: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Tulisan ini merupakan resensi singkat terhadap buku Postmodern karya Bambang Sugiharto, yang hari ini merupakan Guru Besar Filsafat di Universitas Parahyangan.

Bambang Sugiharto mencoba untuk mengelompokkan pemikiran postmodern berdasar pemikirnya, tentu ini tidak mutlak. Pemikiran Dekonstruktif: Derrida, Lyotard, Foucault, Rorty; Konstruktif atau revisioner: Heidegger, Gadamer, Ricoeur, Mary Hesse (dari tradisi Hermeneutika); Studi Proses Whiteheadian: David R. Griffin, Fredic Ferre, D. Bohm; Tradisi Fisika berwawasan holistik: F. Capra, J. Lovelock, Gary Zukav, I. Prigogine. Kelompok konstruktifis membongkar beberapa aspek dari gambaran-dunia “modern”, yang mana jarang dibahas oleh cendikiawan Indonesia.

Baca juga:  Ombak Perubahan: Seni dalam Gelombang Kekinian

Istilah postmodern muncul untuk pertama kalinya dalam wilayah seni pada tahun 1930-an dalam karya Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana, oleh Federico de Onis. Dalam bidang Historigrafi oleh Toynbee dalam A Study of History (1947).

Dari sini istilah postmodern merupakan sebuah kategori yang menjelaskan siklus sejarah baru sejak tahun 1875 degan berakhirnya dominasi Barat, surutnya individualism, kapitalisme, dan kristianistas, serta kebangkitan budaya non-Barat.

Nilai yang kiranya penting dari Postmodernisme diantaranya adalah bahwa dalam postmodernisme ini gagasan-gagasan dasar seperti “filsafat”, “rasionalitas”, dan “epistimologi” dipertanyakan kembali secara sangat radikal. Buku ini bermaksud untuk memahami kembali posisi dan otoritas filsafat, rasionalitas, dan kebenaran secara agak lain, yang mana persoalan utamanya adalah persoalan bahasa.

Bagi Sugiharto, postmodern di bidang filsafat menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika[1] pada umumnya.

Baca juga:  Seni dalam Pandangan Susanne K Langer

Modernisme dalam bidang filsafat adalah gerakan pemikiran dan gambaran dunia tertentu yang awalnya diinspirasi oleh Descartes, dikokohkan oleh gerakan Pencerahan (Enlightenment/Aufklarung), dan mengabadiakan dirinya hingga abad ke-20 melalui dominasi sains dan kapitalisme.

Filsafat berpusat pada epistimologi, yang bersandar pada gagasan tentang subjektivitas dan objektivitas murni, yang satu dengan yang lain terpisah dan tidak saling berkaitan. Dunia seolah mandiri dan menanti subjek yang akan membuat representasi mental tentangnya saja, bagi pandangan “modern”.

Anggapan pemikiran modern tentang “subjek” dan “dunia objektif”, oleh pemikir postmodern diupayakan sebagai usaha untuk menangkap segala konsekuensi dari berakhirnya pandangan modern beserta dengan metafisikanya.

Modernisme selalu berusaha mencari dasar segala pengetahuan tentang “apa”nya realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu sendiri. Kepastian mendasar bagi pengetahuan kita tentang realitas, yang biasanya dibayangkan sebagai “realitas luar”.

Jadi, kalau kita bisa mengorganisasikan gagasan-gagasan secara logis tepat, maka langsung pula kita dapatkan “representasi” yang benar atau keserupaan “objektif” dengan kenyataan.

Baca juga:  Seni dan Ilmu Seni: Sebuah Pengantar

Dalam buku ini diberikan garis merah bahwa, bahasa merupakan pusat dari persoalan dalam istilah-istilah, tidak terkecuali postmodern itu sendiri. Bambang memberikan pandangan tentang jembatan antara bahasa dengan postmodern melalui istilah “metafor”.

Baginya ini merupakan pandangan yang mampu keluar dari kemelut istilah-istilah dalam postmodern, yang mana akar persoalannya adalah pengistimewaan fungsi deskriptif bahasa dalam filsafat.

Bahasa menjadi bagian pokok untuk menyebutkan sesuatu, yang entah disepakati maupun di berikan makna baru. Melalui bahasa berbagai istilah unik dalam filsafat menjadi bagian yang tidak terbantahkan oleh dunia, tentang waktu, tentang pemikiran, tentang apapun yang berbau filsafat postmodern.

[1] Metafisika dalam Ilmu Pengetahuan mencari kebenaran yang paling akhir untuk mendapatkan pengetahuan melalui fundamental ontologisnya dan epistimoliginya sebagai cara yang digunakan mendapatkan pengetahuannya. Biasanya akan terpaut dengan hal-hal goib yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pasti.

Daftar Pustaka

Sugiharto, I. Bambang. Postmodernism:tantangan bagi filsafat. Penerbitan, Yogyakarta: Kanisius, 1996

Baca juga:  Teori Hermeneutika Hans-Georg Gadamer

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.