Ombak Perubahan: Seni dalam Gelombang Kekinian

Cover Ombak Perubahan

MIRMAGZ.com – Pemikiran seni, dan tentang seni tidak akan selesai ketika sebuah seni diciptakan, dipentaskan, maupun dipamerkan. Bentuk seni juga akan terus-menerus berubah mengikuti perkembangan zaman yang melibas segala hal.

Seni juga tidak akan sama pada dasar makna, ide, dan penyebarannya. Seni akhirnya menentukan sendiri jalan hidup untuk berubah, disitulah ombak perubahan terjadi, membuat seni tidak akan sama pada zaman, dan terus menerus mengikuti derap gerak zaman.

Baca juga:  Cara Mengkaji Karya Seni Rupa: Estetika-Mayer Schapiro dan Kritik Seni-Feldman
Cover Ombak Perubahan
Wisetrotomo, Suwarno. Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Nyala. 2020.

Isi Ombak Perubahan

Tulisan ini merupakan ringkasan singkat dari Buku “Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan” karya Suwarno Wisetrotomo tahun 2020.

Buku ini akhirnya rampung dibaca, dan menjadi insipirasi baru terhadap bentuk seni, makna seni, dan fungsi seni kekinian. Menjadi bagian dari filsafat seni di Indonesia.

“untuk Angga Kusuma Dawami, kritisisme atau sikap kritis dibangun dengan terus-menerus, mempertanyakan dan berupaya menemukan jawabannya, Selamat berfokus dan kritis,” merupakan pengantar yang diberikan oleh Pak Warno kepada saya di awal buku.

Refleksi atas seni menjadi permasalahan sentral untuk dibahas dalam buku ini. Bangunan seni yang memiliki konstruksi beragam, membuat seni akhirnya menyesuaikan diri agar menjadi bagian dari ilmu pengetahuan, meskipun dia ada di dalamnya, tidak dipungkiri bahwa eksistensinya hanyalah sebagai hiburan.

Padahal nyatanya melalui seni, orang bisa merefleksikan kehidupan yang tiada berbentuk, tiada bermakna, dan terus memberikan jalan kehidupannya. Layaknya seni dan keseharian, berpacu dalam waktu menjawab apa yang tidak terjawab oleh kata, sikap, dan tindakan.

Sekurang-kurangnya terdapat 8 (delapan) bagian penting yang merupakan luapan pemikiran dari seorang Suwarno, yang sekaligus kurator dari Galeri Nasional (Galnas) tentang ekosistem seni yang hari ini berkembang.

Pembahasannya memuat berbagai kritik praktek seni yang ada di Indonesia, mulai dari pendidikan seni, kerja seni, karya seni, serta disrupsi yang terjadi pada seni hari ini. Awal pemikirannya berawal dari bentuk seni yang sudah berubah ketika pandemi Covid-19 ini berjalan.

Baca juga:  Bentuk Estetik pada Seni

Tahun 2020, menjadi badai besar yang tidak nampak bagi semua orang, namun sangat nyata akibatnya. Bahkan untuk menghadapinya semua negara di dunia mengusahakan yang terbaik agar kehidupan masyarakat berjalan dengan normal kembali.

Namun, kenyataan harus berkata bahwa “normal baru” kehidupan normal yang baru akhirnya harus dihadapi, diadaptasi. Berlaku juga hal ini untuk seni, basis galeri, menikmati langsung, tergantikan dengan layar handphone ataupun laptop. Keresahan ini merupakan salah satu yang melatarbelakangi adanya buku Ombak Perubahan ini.

Seni yang adaptif cenderung akan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan zaman yang terus menerus berubah. Industri 4.0, yang digaungkan memberikan bentuk seni yang juga berbeda, memiliki ekosistemnya tersendiri dan membuat konstruksi berfikir tentang seni yang jauh berbeda ketika kemerdekaan, maupun reformasi.

Buku ini menyingkap bagaimana kondisi yang dihadapi seni hari ini, bagaimana juga memperlakukan seni, dan bagaimana kehidupan seni harus disikapi. Pada akhirnya pengetahuan tentang seni, tentang pasar seni, komodifikasi seni, pengetahuan seni juga akan seiring berubah mengikuti perkembangan zaman.

Memang sepertinya harus melihat secara detail pemikir-pemikir seni agar tidak terjebak pada kubangan pemikiran diri untuk tidka membentuk seni semakin monoton.

Baca juga:  Seni dalam Pandangan Susanne K Langer

Adaptasi seni pada tingkatan seniman, pemikir seni, kritikus, kurator, dibahas pada tataran permukaan untuk membentuk konstruksi pemikiran ekosistem seni itu sendiri.

Contoh-contoh praktek seni yang ada pada buku ini, cukup memberikan pengantar yang akhirnya menjadikan pembaca paham bahwa kegiatan seni tidak hanya berpusat pada galeri, namun tendensi terhadap kehidupan sosial menjadi penting untuk diangkat dan menjadi bagian penting dari masyarakat.

Papermoon Puppet Theatre; Taring Padi; Tisna Snajaya; Mulyana; Teguh Ostenrik; Artjog; Ngayogjazz; Asia Tri disajikan sebagai contoh praktik seni yang menjawab zaman itu sendiri.

Gelombang perubahan akan selalu menyertai kehidupan masa depan. Bisa pelan bisa juga radikal. Tak pernah dapat kita duga, apakah kita akan kembali berpacu mengejar kecepatan untuk merengkuh dunia, ataukah kembali memasuki ruang asketis. Merayakan kehidupan dengan lebih wajar dan organik. (Wisetrotomo, 2020:181)

Baca juga:  Seni dan Ilmu Seni: Sebuah Pengantar

Epilog

Hal ini akan bergantung pada spirit untuk menjalin kerjasama, gotong royong, berkolaborasi, dan mengaktualisasi diri dalam bentuk kedermawanan. Yang mana semua akan menjadi bagian dari sejarah, mengukirnya, dan menjadi titik kecil dari semesta itu sendiri.

Membaca buku ini, akan mendapatkan pengetahuan penting tentang kinerja seni, dan ekosistemnya, bagaimana seni di Indonesia berkembang, dan terus melaju sampai hari ini. Selamat membaca, semoga mendapatkan pengalaman yang baik untuk menghadapi kehidupan zaman yang terus berubah.

Daftar Pustaka

Wisetrotomo, Suwarno. Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Nyala. 2020.

Baca juga:  Mengapa Seni Ada dalam Keseharian?

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.