MIRMAGZ.com — SURAKARTA, 27 September 2026 — Peringatan puncak Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) 2026 di Surakarta berlangsung pada Minggu, 27 September 2026 mulai pukul 09.00 WIB diselenggarakan oleh Pusbisindo Jawa Tengah dengan Gerkatin Surakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HBII dan Pekan Tuli Internasional 2026 yang berlangsung sepanjang September. Secara internasional, peringatan tahun ini membawa pesan mengenai pengakuan dan pemenuhan hak-hak komunitas Tuli, termasuk hak berkomunikasi atas bahasa, budaya, aksesibilitas, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Rangkaian acara puncak di Surakarta diisi dengan seminar mengenai hak-hak Tuli serta berbagai pertunjukan seni yang melibatkan komunitas Tuli dan organisasi penyandang disabilitas. Salah satu kolaborator dalam kegiatan tersebut adalah Program Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) “Inovasi Seni Inklusif Difabel Tuli Klaten melalui Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026” yang diketuai oleh Angga Kusuma Dawami. Program ini menghadirkan Komunitas Tuli Klaten (KTK) bersama Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) Klaten dalam sebuah pertunjukan Fashion Show Pantomim.
Pertunjukan tersebut merupakan hasil dari proses kreatif yang telah dilakukan secara bertahap dalam rangkaian kegiatan PISN. Batik yang digunakan dalam pertunjukan tidak hanya diposisikan sebagai produk kerajinan, tetapi dikembangkan sebagai bahasa visual yang merepresentasikan pengalaman dan identitas komunitas Tuli. Prosesnya dimulai dari eksplorasi pengalaman dan gestur, pengembangan simbol dan motif, produksi batik, hingga pengolahan kain menjadi busana yang kemudian digunakan dalam pertunjukan. Dengan pendekatan tersebut, busana menjadi bagian dari narasi pertunjukan dan tidak sekadar berfungsi sebagai kostum.
Kehadiran KTK dan PPDK Klaten dalam panggung HBII 2026 menjadi ruang diseminasi bagi karya yang sebelumnya dikembangkan melalui pelatihan dan pendampingan. Proses pembuatan busana dilakukan secara bertahap melalui kegiatan-kegiatan sebelumnya, sehingga pertunjukan pada HBII 2026 di Surakarta menjadi tahap penting dalam memperlihatkan hasil proses penciptaan kepada publik. Fashion Show Pantomim mempertemukan desain busana, batik, gestur, dan ekspresi tubuh sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang selaras dengan karakter komunikasi komunitas Tuli.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bagaimana program seni dapat menjadi ruang untuk memperluas partisipasi komunitas Tuli dalam ekosistem seni dan budaya. Peringatan HBII sendiri menempatkan bahasa dan budaya Tuli sebagai bagian penting dari pemenuhan hak asasi manusia. Pusbisindo dan Gerkatin dalam rangkaian HBII 2026 menekankan pentingnya pengakuan bahasa isyarat, penguatan budaya Tuli, serta akses komunikasi dan partisipasi yang setara.
Melalui keterlibatan dalam puncak HBII 2026 di Surakarta, PISN tidak hanya menghadirkan sebuah pertunjukan, tetapi juga membawa hasil proses penciptaan seni partisipatif dari komunitas ke ruang publik. Batik, busana, dan pantomim menjadi satu kesatuan proses kreatif yang mempertemukan seni dengan pengalaman manusia, identitas, dan keberagaman cara berkomunikasi. Bagi KTK, panggung tersebut menjadi ruang untuk menampilkan karya dan artikulasi identitas melalui medium seni, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antara komunitas Tuli, organisasi disabilitas, perguruan tinggi, dan ekosistem seni di Surakarta.

Pemikir, peneliti, penulis, dan pengajar Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada bidang Apresiasi Estetika Visual, telah menyelesaikan gelar Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.





