Komunitas Tuli Klaten Ciptakan Inovasi Batik Cap Mix Batik Ciprat, Siap Tampil di Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026

MIRMAGZ.com – Klaten, 31 Mei 2026 – Kreativitas dan semangat inklusivitas mewarnai Sekretariat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK), Barenglor, Klaten, dalam kegiatan Pelatihan Batik Cap Mix Batik Ciprat yang berlangsung pada 30–31 Mei 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Tuli Klaten (KTK) bersama tim Program Pengabdian kepada Masyarakat dan PPDK ini menjadi langkah baru dalam mengembangkan seni berbasis budaya lokal yang ramah bagi penyandang disabilitas Tuli.

Baca juga:  Melihat Ulang Keindahan: Estetika Disabilitas dan Keadilan Visual di Indonesia

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Inovasi Seni Nusantara (PISN) bertajuk “Inovasi Seni Inklusif Difabel Tuli Klaten melalui Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026”. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan berkarya, tetapi juga memperkuat identitas sosial dan budaya Komunitas Tuli melalui medium seni.

Pelatihan Batik Ciprat Mix Batik Cap di PPDK Klaten bersama Komunitas Tuli Klaten 30-31 Mei 2026

Yang menarik, pelatihan ini menghadirkan sebuah inovasi kreatif dengan menggabungkan dua teknik membatik, yakni batik cap dan batik ciprat. Selama ini, batik ciprat telah menjadi salah satu bentuk ekspresi artistik yang dekat dengan komunitas Tuli. Kehadiran teknik batik cap memberikan dimensi baru dengan menghadirkan motif-motif khas yang dirancang secara kolektif sebagai identitas visual komunitas.

Dalam pelaksanaannya, komunikasi antara fasilitator dan peserta berlangsung secara inklusif dengan dukungan Juru Bahasa Isyarat, sehingga seluruh proses pembelajaran dapat diikuti secara optimal oleh peserta Tuli.

Baca juga:  Universitas Sahid Surakarta Wujudkan Seni Inklusif bagi Difabel Klaten Lewat Program PISN: Dari Workshop Lukis hingga Batik Ciprat

Kegiatan dibuka oleh tim pelaksana yang terdiri dari Dr. Angga Kusuma Dawami, M.Sn., Danang Priyanto, S.Tr.Sn., M.Sn., dan Wisnu Samodro, M.Sn., bersama Ketua PPDK Klaten, Qoriek Asmarawati, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ruang belajar kreatif yang memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk terus berkarya dan mengembangkan potensinya.

Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan pengalaman lengkap mulai dari perancangan motif, pembuatan cap, teknik pengecapan pada kain, hingga mengombinasikannya dengan teknik ciprat yang telah menjadi ciri khas karya Komunitas Tuli Klaten. Tidak hanya itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam proses membatik, terutama dalam penggunaan malam panas dan berbagai peralatan pendukung.

Salah satu capaian penting dari kegiatan ini adalah dimulainya proses penciptaan motif khas Komunitas Tuli Klaten. Berbagai ide visual yang lahir dari pengalaman hidup, budaya Tuli, dan nilai-nilai inklusivitas dikembangkan secara partisipatif untuk kemudian diwujudkan menjadi cap berbahan plat tembaga. Motif tersebut diharapkan menjadi identitas visual yang melekat pada karya-karya komunitas sekaligus memperkuat posisi mereka dalam ekosistem seni dan budaya.

Baca juga:  DeKaVe Yang Dituliskan oleh Sumbo Tinarbuko

Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali mengenal dan mempraktikkan teknik batik cap. Proses kreatif yang kolaboratif tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun rasa percaya diri serta kebanggaan terhadap identitas budaya Tuli yang mereka miliki.

Menariknya, hasil pelatihan ini tidak akan berhenti pada penciptaan produk batik semata. Kain-kain yang dihasilkan akan dikembangkan menjadi busana artistik yang akan dikenakan dalam pertunjukan pantomim pada Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026. Sebagai bagian dari persiapan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada latihan dasar pantomim yang mengintegrasikan seni rupa, desain busana, dan seni pertunjukan dalam satu ekosistem kreatif yang inklusif.

Baca juga:  Seni, Tubuh, dan Masa Depan: Menggugat Pendidikan yang Hanya Mengejar Produk

Melalui program ini, Komunitas Tuli Klaten membuktikan bahwa seni bukan sekadar ruang berekspresi, tetapi juga sarana pemberdayaan dan penguatan identitas. Kolaborasi antara komunitas, akademisi, dan organisasi penyandang disabilitas ini diharapkan dapat membuka ruang apresiasi yang lebih luas terhadap karya-karya difabel Tuli serta mendorong lahirnya praktik seni yang semakin inklusif di Indonesia.

“Kami percaya bahwa setiap karya yang lahir dari tangan teman-teman Tuli bukan hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga membawa pesan tentang kesetaraan, keberagaman, dan hak setiap orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya,” menjadi semangat yang mengiringi pelaksanaan program ini menuju Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026.[]

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp
Telegram

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://mirmagz.com/2024/05/27/selamat-ulang-tahun-saint-petersburg/?utm_source=webpushr&utm_medium=push&utm_campaign=9266

http://MIRMAGZ.com -sebelum seseorang menulis sebuah ulasan tentang suatu buku, perlu untuk mengerti mengapa dia melakukannya. #caramenulisresensi

https://mirmagz.com/2023/01/11/cara-menulis-ulasan-buku-yang-mudah-dan-menyenangkan/

Load More
anz.prjct
Medusaphotoworks
logo-lyubov-books
Lyubov Books - Toko Buku Online
Buku Terbaru WPAP dan Mistik Kesehariannya

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.