MIRMGAZ.com – Banyak orang menganggap kemampuan berpikir kritis, analitis, logis, dan ilmiah adalah keterampilan yang rumit untuk diajarkan. Akibatnya, guru sering merasa bahwa mereka membutuhkan teknologi canggih, kurikulum yang kompleks, atau fasilitas mahal agar siswa mampu mengembangkan kemampuan tersebut.
Padahal kenyataannya tidak demikian. Melalui contoh-contoh yang sangat sederhana, kemampuan berpikir tingkat tinggi justru dapat dilatih sejak anak masih berada di sekolah dasar, bahkan taman kanak-kanak.
Berawal dari Pola yang Sangat Sederhana
Bayangkan sebuah pola warna:
Hitam – Merah – Hitam – Merah – Hitam – Merah …
Guru dapat mengajukan pertanyaan sederhana kepada siswa:
- Warna apa yang muncul berikutnya?
- Bagaimana kamu tahu?
- Kalau posisi ke-100, warnanya apa?
- Mengapa bisa begitu?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini sebenarnya sedang melatih berbagai kemampuan berpikir sekaligus. Anak belajar mengamati pola, membuat dugaan, menjelaskan alasan, dan mempertanyakan kembali hasil pikirannya sendiri.
Contoh lain adalah pola: Hitam – Merah – Merah – Hitam – Merah – Merah – Hitam…
Guru dapat bertanya, “Warna pada urutan ke-20 apa?”
Masalahnya terlihat sederhana, tetapi siswa dipaksa mencari pola terlebih dahulu sebelum menjawab. Aktivitas seperti ini bahkan bisa dibuat menjadi permainan atau lagu sehingga menyenangkan bagi anak-anak.
Satu Aktivitas, Banyak Kemampuan Berpikir
Di balik latihan sederhana tersebut sebenarnya terdapat berbagai keterampilan penting, yaitu:
- rasa ingin tahu,
- berpikir analitis,
- berpikir kritis,
- penalaran induktif,
- penalaran deduktif.
Yang menarik, semua itu dapat dilatih tanpa alat khusus maupun biaya besar. Fokusnya bukan pada medianya, tetapi pada proses berpikir yang dibangun oleh guru.
Mengapa Matematika Sangat Penting?
Pembicara menekankan bahwa tujuan utama pembelajaran matematika bukanlah sekadar menghitung.
Matematika merupakan sarana untuk melatih logika. Bahkan dalam tradisi pendidikan klasik disebutkan bahwa logika diasah melalui matematika, sementara kemampuan berbicara diasah melalui retorika dan kepekaan moral melalui pendidikan etika.
Artinya, matematika seharusnya dikembalikan pada fungsi utamanya, yaitu sebagai latihan bernalar.
Mari kita ajukan pertanyaan: Apa angka terakhir dari 720267^{2026}72026?
Menghitung nilai tersebut secara langsung tentu sangat sulit. Karena itu, siswa diajak menggunakan pendekatan yang berbeda.
Pertama, mereka mengamati pola angka terakhir dari beberapa pangkat awal:
- 7¹ → 7
- 7² → 9
- 7³ → 3
- 7⁴ → 1
Kemudian pola tersebut berulang:
7 – 9 – 3 – 1 – 7 – 9 – 3 – 1…
Dari sini siswa membuat dugaan bahwa pola akan terus berulang. Inilah yang disebut penalaran induktif.
Namun dugaan saja belum cukup. Siswa kemudian diminta menjelaskan mengapa pola itu selalu berulang. Inilah tahap penalaran deduktif, yaitu memberikan alasan logis yang membuktikan dugaan sebelumnya.
Karena 2026 adalah 2024 + 2, sedangkan 2024 merupakan kelipatan 4, maka angka terakhir 720247^{2024}72024 adalah 1. Setelah dikalikan dengan 7² yang berakhir dengan angka 9, diperoleh bahwa angka terakhir 720267^{2026}72026 adalah 9.
Setelah itu, guru masih dapat memperluas diskusi dengan pertanyaan lanjutan seperti: “Bagaimana jika pangkatnya bukan bilangan bulat?”
Di sinilah kemampuan berpikir kritis mulai berkembang.
Pendidikan Berkualitas Tidak Harus Mahal
Salah satu pesan terkuat dalam transkrip ini adalah bahwa pendidikan berkualitas tidak identik dengan biaya tinggi.
Indonesia, menurut pembicara, perlu memilih strategi pendidikan yang hemat (frugal education). Bukan berarti murahan, tetapi memanfaatkan cara-cara sederhana yang tetap menghasilkan pembelajaran bermutu.
Di daerah terpencil yang minim teknologi, bahkan tanpa listrik sekalipun, guru masih dapat melatih kemampuan berpikir siswa menggunakan aktivitas-aktivitas sederhana seperti mengenali pola, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Video pendek berdurasi dua menit yang dibagikan melalui WhatsApp pun dapat menjadi media belajar yang efektif.
Prinsip yang diusulkan sangat menarik:
Pendidikan di pinggiran bukan berarti pendidikan pinggiran.
Sekolah di daerah terpencil tetap berhak memperoleh pendidikan kelas dunia, meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Pendidikan Harus Mengembangkan Manusia Seutuhnya
Pembicara kemudian mengaitkan gagasannya dengan pemikiran Tan Malaka.
Menurutnya, tujuan pendidikan adalah:
- mengasah akal,
- menghaluskan rasa,
- menebalkan tekad.
Ketiga aspek tersebut saling melengkapi. Kemampuan berpikir saja tidak cukup. Seseorang juga perlu memiliki empati, kegigihan, serta kemauan untuk terus menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Gagasan ini memiliki kemiripan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya keseimbangan antara akal, rasa, dan kehendak. Pendidikan seni membantu menghaluskan rasa, sedangkan pendidikan jasmani memperkuat tekad.
Belajar Berpikir Bisa Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Pada akhirnya, pesan utama dari seluruh pembahasan ini sangat sederhana tetapi mendalam.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak selalu lahir dari materi yang sulit atau teknologi yang mahal. Justru melalui aktivitas yang sederhana—mengenali pola, mengajukan pertanyaan, mencari alasan, dan mendiskusikan jawaban—anak-anak dapat belajar berpikir secara ilmiah.
Matematika dalam konteks ini bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan sarana untuk membangun cara berpikir yang sistematis, logis, kritis, dan kreatif.
Jika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang pandai menghitung, tetapi juga individu yang mampu bernalar, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta siap menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Disarikan dari kuliah Prof. Iwan Pranoto pada Channel Malaka pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=IjQ46WyDtp4

Pemikir, peneliti, penulis, dan pengajar Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada bidang Apresiasi Estetika Visual, telah menyelesaikan gelar Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.






