Nilai Seni dari Pandangan Jakob Soemardjo

MIRMAGZ.com – Kita mulai dengan pertanyaan, apa yang dimaksud dengan nilai? Apakah sama dengan estetika?

Dalam KBBI, nilai/ni·lai/ memiliki pengertian sebagai:

  1. harga (dalam arti taksiran harga): sebenarnya tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan — intan;
  2. harga uang (dibandingkan dengan harga uang yang lain): — rupiah terus menurun;
  3. angka kepandaian; biji; ponten: rata-rata — mata pelajarannya adalah sembilan; sekurang-kurangnya — tujuh untuk ilmu pasti baru dapat diterima di akademi teknik itu;
  4. banyak sedikitnya isi; kadar; mutu: — gizi berbagai jeruk hampir sama; suatu karya sastra yang tinggi — nya;
  5. sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan: — tradisional yang dapat mendorong pembangunan perlu kita kembangkan;
  6. sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya: etika dan — berhubungan erat

Mari kita gunakan definisi ke 5 (lima) dan 6 (enam). Bisa dikatakan bahwa suatu benda memiliki nilai jika benda tersebut memiliki sifat yang penting, berguna, indah, adil, dan lain sebagainya. Nilai harus membuat orang mengakuinya, bahwa benda itu bernilai. Kemudian yang menjadi pokok persoalan adalah, kualitas nilai seni yang seperti apa yang bernilai?

Lukisan Piet Mondrian, salah satu dari karya Piet Mondrian yang paling terkenal dari periode De Stijl.
Piet Mondrian, Komposisi II dalam Merah, Biru, dan Kuning, 1930 credit: Wikipedia

Lukisan Piet Mondrian, yang berupa kotak-kotak, boleh jadi ketika kita menilai “ah, begitu doang”. Karena keseharian kita hanya akan berkutat pada bentuk seni yang lebih kompleks yang berkutat pada seni keseharian. Tidak semua orang menanggapi lukisan ini mengandung nilai-nilai tertentu, sementara kritikus, peneliti seni memiliki cara penilaiannya tersendiri. Contoh lain misalkan sebuah lagu dangdut yang memiliki lantunan kendang yang bisa membuat seorang bergoyang, karena memuaskan hasrat nilai musikal yang memang sudah mengendap lama, sementara bagi orang yang menyukai musik klasik, “ah, ini apa sih!”

Baca juga:  Desain Komunikasi Visual (DKV) sebagai Peran Perancang Komunikasi

Dengan demikian, nilai itu bermacam-macam ragamnya, dan akan sangat bergantung pada gambaran atau konsep seseorang mengenai nilai seni yang diperoleh lewat penghayatan, pengalaman, serta pengetahuan orang tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa, seni bagi seseorang belum tentu seni bagi orang lain, karena akhirnya akan bergantung bagaimana orang memberi nilai terlebih dahulu? Apakah benar seperti itu?

Tentu tidak.

Setiap seni memiliki nilai dasarnya sendiri, yang sama berangkatnya, serta membedakan dirinya dengan nilai Agama, Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Seni. Jakob Soemardjo memberikan sekurang-kurangnya terdapat 3 (tiga) nilai dasar pada seni;

  1. Nilai Penampilan (appearance); nilai wujud yang melahirkan benda seni, biasanya terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur.
  2. Nilai Isi (content); dapat terdiri atas nilai pengetahuan kognitif, nilai rasa, intuisi atau bawah sadar, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup yang bisa berupa nilai religi, nilai sosial, dan lain sebagainya.
  3. Nilai Pengungkapan (presentation); nilai ini bisa menunjukkan bakat seseorang, nilai keterampilan, dan nilai medium yang dipakai.

Dimana ketiganya menyatu dalam wujud seni yang tidak terpisahkan antar satu nilai dengan nilai seni yang lain, hanya dibedakan bagi kepentingan analisis seni oleh para kritikus.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.