Ideologi dalam Desain

MIRMAGZ.com – Memahami desain grafis atau desain informasi, yang di dalamnya ada fashion, desain produk, arsitektur, kerajinan dan banyak yang lain. Bagaimana mereka ‘ada’ tanpa ada makna yang menyertainya? Apa yang sebenarnya tersembunyi? Faktanya, ide-ide mereka nyata dalam bentuk karya dan bisa kita nikmati dalam keseharian.

Baca juga:  Desain Komunikasi Visual (DKV) sebagai Peran Perancang Komunikasi

Makna dibuat disaat sebuah teks dibaca, tidak ketika itu dituliskan; yang berarti bahwa apa yang aku maksud ketika aku mengatakan “pohon”, maka gambaran makna “pohon” akan tergambar dibenak kita. Sehingga komunikasi merupakan produksi makna.

Desain menyajikan komunikasi melalui pandangan terhadap dunia dari inisiator (bisa non-komersial maupun komersial yang ingin dimunculkan ‘dunia seperti apa’). Semua desain adalah ‘politik’. Untuk memberikan pengaruh terhadap orang guna menyajikan dunia yang diinginkan. Kita coba bahas dari sisi komunikasi visual dan budaya; ideologi.

Untuk penganut marxism, ideologi merupakan proses yang mana ide-ide dan dunia dilihat dari grup-grup pada tingkatan sosial yang lebih dominan. Ide-ide yang diterima oleh masyarakat luas melihatnya sebagia kebenaran. Termasuk didalamnya adalah sistem ekonomi dan sistem sosial.

Baca juga:  Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desain Harus Bersandar pada Teori?

Gambar-gambar yang dibuat, untuk desain, merupakan sebuah kesadaran yang tidak natural (atau dalam pandangan marxis, disebut sebagai ‘ketidaksadaran yang salah’), karena itu ditentukan tidak melalui hal-hal natural, tapi dunia yang dibangun untuk kita hidup hari ini. Nilai yang ada pada desain hari ini merupakan konstruksi yang telah dibuat oleh pembuat desain.

Tanda menjadi ideologi ketika mereka menghentikan operasi pada level semantik dari komunikasi, dan memulai komunikasi secara konseptual dan level yang lebih berdampak, untuk memberikan arti pada konsep, seperti ‘cinta’ yang komersil dibuat untuk hari-hari valentine, “fight for peace”, dan mengarahkan ke “nilai-nilai kekeluargaan”, daripada hal-hal yang lebih kongkrit, berupa instruksi seperti ‘stop’ atau ‘go’.

Baca juga:  Cara Mengkaji Karya Seni Rupa: Estetika-Mayer Schapiro dan Kritik Seni-Feldman

Kita melihat gambar dari bagaimana kita harus bertindak atau terlihat dari gambar secara visual dan objek-objek disekitar kita, yang diproduksi melalui media-media komunikasi; koran, rumah fashion, penyiar, dan yang lainnya. Mereka akan menghasilkan simbol untuk bisa dipercaya, membentuk nilai-nilai yang diinginkan jelas kepentingannya adalah fungsi atau ekonomi, untuk membuat nilai baru sebagai tawaran yang lain, atau sebuah simbol status tertentu.

Jadi proses komunikasi dalam desain adalah sebuah proses pembentukan ideologi, dan desain merupakan agen idologi yang di dalamnya mengkomunikasikan (buruk atau baiknya) untuk mencapai tujuan politik dari orang maupun organisasi yang membayarnya. Jahat atau tidaknya seorang desain akan bergantung pada kesadaran desainer itu sendiri dalam membuat desain.

Baca juga:  Ombak Perubahan: Seni dalam Gelombang Kekinian

Sumber:

Baldwin, Jonathan; Lucienne Roberts. 2006. Visual Communication: From Theory to Practice. Singapore: AVA Book Production, P. 41-42

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.