Estetika Sanggit: Sebuah Pameran Retropeksi Prof Dharsono

MIRMAGZ.com -Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berbahagia karena adanya acara Pameran Virtual untuk memperingati 70 tahun Eyang Dharso, Guru Besar Seni Rupa, yang hari ini telah Purna Tugas. Guru Besar yang memberikan banyak pembelajaran tentang kehidupan Estetika Nusantara di Indonesia. Salah satu pemikiran Dharsono adalah tentang Estetika Nusantara yang diejawantahkan menggunakan konsep Sanggit.

Estetika Sanggit
FSRD ISI Surakarta akan menggelar pameran yang bertajuk “Pameran Retrospeksi 70 Th Eyang Dharso Estetika Sanggit” pada 1 Agustus – 1 Desember 2021.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Ulang Tahun ke-70, serta Purna Tugas Prof. Dr. Dharsono, M.Sn. Sebagai bagian dari ilmuan seni, terutama Seni Rupa, di Indonesia.

-AK. Dawami, 2021-

Segala konsep pada pameran ini berakar pada kata Sanggit. Sanggit berasal dari kata anggit, yang berarti karang, gubah, atau reka. Dengan mendasarkan pada etimologi tersebut, maka sanggit adalah ide atau imajinasi tentang sesuatu, yakni sesuatu yang belum ada sebelumnya.

Baca juga:  Desain Komunikasi Visual (DKV) sebagai Peran Perancang Komunikasi

Kuratorial Dewan Kurator

Seiring berkembangnya postmodernisme dunia akhir dekade 70-an dan mulai memasuki Indonesia pada dekade 90-an, memunculkan kecenderungan hilangnya batas seni dan kehidupan sehari-hari, tumbangnya sekat-sekat budaya tinggi dan budaya pop, pencampuradukan gaya, hilangnya orisinalitas karya.

Seni-seni yang berbasis dari tradisi semakin lama semakin menghilang dari percaturan kesenian, padahal seni-seni tersebut diperlukan sebagai upaya eksistensi citra Indonesia untuk tampil di panggung dunia. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan teori-teori seni modern diperlukan agar karya-karya yang dihasilkan dapat mengikuti perkembangan zaman.

Seni tradisi dengan sentuhan modern merupakan usaha dalam pencarian identitas budaya guna menyongsong era globalisasi. Pemikiran tersebut dapat diartikan sebagai karya seni dengan pendekatan konsep estetika atau lebih tepatnya dinamakan Estetika Sanggit.

Karya seni sanggit terdiri atas revitalisasi sanggit, reinterpretasi sanggit, dan abstraksi/ekspresi simbolik sanggit. Pemikiran mengenai Estetika Sanggit merupakan buah pikiran dari Prof. Dr. Dharsono, M.Sn yang merupakan salah satu tokoh estetika di Indonesia.

Kurator membagi menjadi 3 ruang pameran virtual yaitu karya-karya yang tradisi, tradisi dengan sentuhan modern, dan kontemporer. Karya-karya yang disajikan pada ruang virtual tersebut sangat menarik dan mempunyai kedalaman baik secara teknis maupun konseptual dan tetap mengacu pada tema pameran tersebut. Pameran virtual tersebut berusaha mempertemukan antara tradisi dan modern dalam bingkai pengkaryaan, sebagai intisari dari Estetika Sanggit.

Baca juga:  Ideologi dalam Desain

Estetika Sanggit

Seni dalam falsafah jawa adalah barang “kagunan”. Maka dalam penelitian Prof Dhar, ada estetika pengembangan, dengan menggunakan Estetika Sanggit.

Menyadari hal tersebut maka perlu kita lihat kemapaman kondisi akar budaya kita. Akar tradisi yang sudah menjadi keyakinan dan sudah mengakar di bumi pertiwi ini. Menurut Dharsono (2000), perlu kita kembang-lestarikan sebagai satu sentuhan konsep inovasi garap seni lukis Indonesia.

Sehingga, seni lukis modern Indonesia tidak lagi sekedar pencarian mode yang sekedar barang import, tapi perlu digali dari bumi pertiwi sendiri. Lebih dari 15 tahun kemudian, Dharsono melalui bukunya “Estetika Nusantara”, lebih menajamkan gagasannya tentang konsepsi seni lukis Indonesia yang punya akar Indonesia, dengan menawarkan konsep Estetika Sanggit yang dibagi menjadi tiga unsur, yaitu: revitalisasi, reinterpretasi, dan abstraksi/ekspresi simbolik, dan pameran ini adalah implementasi dari gagasan Dharsono tersebut.

  1. Unsur Revitalisasi Sanggit
    Estetika yang berkaitan dengan membuat putran, kalo dibatik putrani, kalo di Jawa ada meniru. Meniru tetapi, berakar pada konstruksi tradisi. Merevitalisasi merupakan usaha untuk melestarikan bentuk-bentuk sanggit itu sendiri. Yang berhak ditiru adalah yang anonim. Misalkan, Tari Bedaya Ketawang bisa dikembangkan kembali, contohnya menjadi Bedaya Ila-ila. Pola geraknya persis, pakaiannya berubah, tempat pentasnya mulai berubah. Mengacu pada “vital”-nya, dan masih anonim secara kepemilikannya.
  2. Unsur Re-intepretasi Sanggit
    Usaha untuk membentuk estetika dengan kembali dengan menginterpretasi melalui Sanggit itu sendiri. Karya-karya yang dibuat dengan menggunakan estetika sanggit, tentu ada unsur kembali mengintepretasi setelah melihat karya-karya tradisi yang anonim oleh pencipta karya.
  3. Unsur Ekspresi/Abstraksi Simbol Sanggit
    Setelah me-revitalisasi, dan mengintepretasi, melalui Sanggit, muncul karya-karya seperti Sukarman, Ekspresi personal dengan medium tradisi. Ekspresi personal yang dengan menggunakan metode metafor, meminjam idiom-idiom tradisi. Seperti karya Prof Sardono, yang berujudul “Opera Diponegoro”, merupakan ekspresinya Sardono, re-intrepetasi sebuah karya yang terinspirasi dari karya Raden Saleh, “Penangkapan Diponegoro”.

Ketiga unsur ini saling terkait dan memberikan keutuhan dalam Estetika Sanggit itu sendiri sebagai sebuah teori seni yang berakar pada tradisi.

Baca juga:  Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desain Harus Bersandar pada Teori?

Kesimpulan

Estetika Nusantara merupakan salah satu teori seni yang dikembangkan oleh Prof Dharsono guna memberikan kontribusi untuk membentuk teori seni dari wilayah yang partikular. Tradisi, masa lalu, yang ada di Nusantara memberikan banyak inspirasi untuk membentuk manusia di Nusantara tidak hilang akarnya.

Estetika Sanggit merupakan salah satu konsep yang ditetapkan guna mendefinisikan seniman-seniman Nusantara untuk menggunakan Tradisi. Melalui tiga unsur pembentuk Estetika Sanggit, sebuah karya yang berbau tradisi seharusnya bisa setara dengan pemikiran Picasso, Da Vinci, bahkan era post-modern seperti sekarang.

Selamat Purna Tugas, Guru, Orang Tua, Prof. Dr. Dharsono, M.Sn. Semoga terus memberikan sumbangsih pemikiran untuk Indonesia.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

1 thought on “Estetika Sanggit: Sebuah Pameran Retropeksi Prof Dharsono”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.