Belajar Cara Mendidik Anak Difabel dari Sosok Helen Keller

helen and anne

MIRMAGZ.com – Seorang anak yang hidup dengan keterbatasan yang bahkan tidak dibayangkan oleh orang difabel sekalipun. Menjadi pembelajar yang begitu hebat karena kegigihannya dalam menghadapi dunia. Hal ini berdampak luas terhadap cara pembelajaran bagi tuna netra yang berpadu dengan tuna rungu dalam satu tubuh.

Kisah ini terjadi di Alabama, Amerika. Seorang guru yang memiliki low vision (pengelihatan yang terbatas) berhasil mendidik seorang anak tuna-netra, tuna-rungu, dan belum bisa berkomunikasi, sehingga bangkit dari keterpurukan stigma, kemenyerahan orang tua, dan dunia.

Baca juga:  Temuan Mumi Hamil? Seperti Apa?
helen and anne
Helen dan Anne

Pada akhir abad 19, di Tasukambia, Alabama, Amerika Serikat, lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Helen Keller yang sejak kecil sudah mengalami sakit keras. Helen tumbuh menjadi seorang tuna rungu, tuna netra, dan tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya.

Kedua orangtuanya telah menyerah dengan kondisi anaknya. Beruntung, anak ini bertemu dengan Graham Bell – Bapak Telekomunikasi. Bell mengagas untuk menemukan anak ini dengan seorang guru untuk mengajarinya segala hal yang dapat dilakukan, dan diajarkan. Guru itu bernama Anne Sullivan, yang mana sang guru memiliki keterbatasan penglihatan.

Baca juga:  Unik, Burung Hantu Salju Ini Jadi Salah Satu Penjaga Kremlin

Helen Keller hanya dapat mengandalkan indra-indra yang ada untuk berfikir, melalui meraba, mengecap dan membau. Kondisi ini ternyata dilihat oleh Anne sebagai potensi untuk Helen memahami apa yang ada disekitarnya.

Anne sadar betul bahwa ia harus melakukan Helen dengan cara yang khusus, tidak sama dengan murid-muridnya yang lain, yaitu melalui cinta yang besar. Meskipun ketika bertemu pertama kali dengan Helen pada usia 7 tahun, Anne membasakan secara metaforik “seakan berjumpa dengan seekor binatang liar”, yang nampaknya tidak bisa didekati dengan cara apapun.

Anne sendiri yang memiliki disabilitas netra, mampu merasakan apa yang Helen rasakan, seorang anak 7 tahun tidak mengetahui cara berkomunikasi, tidak bisa mengungkapkan isi hati, namun dipaksa untuk hidup.

Baca juga:  Swedish Meatballs Ternyata Berasal dari Era Turki Usmani, Intip Cara Membuatnya Yuk!

Melalui pemahamannya sebagai seorang difabel, Anne berusaha sekuat tenaga untuk mengajar Helen. Pertama-tama dia mulai mengamati perasaannya sendiri, dan berusaha masuk ke dalam pikiran Helen, sesuatu yang tidak lakukan oleh orang tuanya. Ini pun sepertinya banyak terjadi di Indonesia terhadap anak-anak difabel, lebih khusus kepada anak-anak difabel dengan kasus berat.

Ia mengajar dengan mengulang hal-hal yang sama setiap hari. Bahkan Helen diajak untuk tinggal bersama dalam rumahnya yang ada di dalam hutan, untuk mengajarkan hal-hal baru kepada Helen. Dari hidup bersama inilah, Anne sadar bahwa Helen tidak mampu mempelajari apa-apa selain melakukan aktivitas fisik pribadi yang digunakan untuk rutinitas kesehariannya; makan, minum, ke kamar mandi, dan lain sebagainya.

Anne mengajari Helen dengan cara yang unik, mempertimbangkan kemampuan Helen dalam menerima komunikasi di luar dirinya.

Pengulangan terhadap hal-hal sederhana setiap hari digunakan untuk mengarahkan pikiran, membentuk komunikasi, dan menata memorinya tentang sensasi-sensasi yang dialaminya, hal inilah yang menjadi konsep untuk Helen sendiri, yang dikemudian hari dijadikan untuk mengajar pada anak difabel.

Baca juga:  Ombak Perubahan: Seni dalam Gelombang Kekinian

Helen dibawa ke pancuran air, tangannya diposisikan tepat di bawah pancuran, sehingga Helen merasakan sensasi bentuk air, dinginnya air, sensasi air mengalir. Saat itu juga Anne memberitahu Helen melalui telapak tangannya dengan huruf isyarat ke tangan Helen.

Anne mengeja W A T E R (Water, Air), ketika Helen merasakan sensasi air pada pancuran tersebut dengan menggunakan bahasa isyarat yang ditempelkan pada tangan Helen.

Cara ini juga digunakan untuk mengenalkan konsep benda sekitar Helen secara berulang-ulang, terus menerus dilakukan. Ketika sudah paham, Anne mengambil sebuah gelas, dan air yang mengucur tersebut ditempatkan pada gelas.

Helen kemudian memegang gelas tersebut, di isi air yang mengucur pada pancuran, dan kemudian Anne mengeja dengan isyarat di tangan Helen dengan G L A S S. Glass (Gelas) merupakan konsep yang diajarkan kala itu, begitu seterusnya sehiangga Helen dapat berkomunikasi, menjadi tokoh pendidikan bagi anak difabel, bahkan menulis buku, dan berceramah di berbagai negara, membau meraba dengan membaca dan berfikir.

Baca juga:  Cara Mengkaji Karya Seni Rupa: Estetika-Mayer Schapiro dan Kritik Seni-Feldman

David Bohm menuliskan bahwa langkah kunci dalam pembelajaran itu adalah ‘mengajari si anak agar dapat membentuk suatu konsep’, yang mana konsep-konsep benda tersebut belum dipahami oleh Helen, sebab dia tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain sampai pada tingkat orang pada umumnya.

Ketika Helen mengadahkan tangan pada pancuran, dan mengajari kata WATER, sesungguhnya Anne mencoba unutk membuka pikiran Helen unutk dapat mengaitkan pengalaman-pengalaman itu dengan konsep, yaitu cara bagaimana menyatakan sesuatu dengan susunan tanda-tanda sederhana.

Peristiwa itu mengawali suatu revolusi yang fantastik dalam keseluruhan pikiran sang anak, yaitu kedalaman dan keluasan dari sesuatu yang sangat sukar kita apresiasi tanpa pernah mengalami langsung seperti apa hidup ini tanpa abstraksi-abstraksi konseptual.

Baca juga:  Sejarah Huruf Sirilik Rusia

Momen inilah yang dikatakan Helen sebagai satu kilatan (cahaya) Insight (pemahaman baru, bersifat fundamen dan esensial) tentang air dan tulisan air. Helen mampu menangkap relasi antara tangan yang mengadah air, dengan kata WATER dengan cara yang koheren, yang paling bermakna adalah persepsi Helen tentang makna dan kekuatan dari suatu konsep.

Helen Keller
Helen Adams Keller (27 Juni 1880 – 1 Juni 1968) adalah seorang penulis Amerika, advokat hak-hak disabilitas , aktivis politik dan dosen.

Pendidikan terhadap anak difabel memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Pejuang difabel menurut saya, penting untuk memahami bahwa konsep kehidupan kita perlu dilihat lebih partikular, lebih detail, tentang bagaimana kita sebagai orang yang mendapatkan anak difabel mampu mendefinisikan kembali bahwa pendidikan difabel tidak melulu menggantungkan diri pada Sekolah Luar Biasa.

Terlebih memaksakan bahwa anak harus pintar dengan nilai, malah justru ketika kita mampu memberikan yang terbaik untuk anak difabel, dia bisa menjadi apa yang dia inginkan, menjadi bagian penting dari dunia, dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Disabilitas bukanlah hal yang memalukan, melalui pembelajaran yang tepat, anak difabel akan mencapai masa depan yang tidak sekadar mendapatkan uang, namun bisa menginspirasi banyak orang.

Baca juga:  Eksotisme Sastra dan Lagu Indonesia di Rusia

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.