Buku Baru dari Hasil Pemikiran WPAP: WPAP dan Mistik Keseharian

MIRMAGZ.com – Sekapur sirih untuk Buku: “WPAP DAN MISTIK KESEHARIANNYA, penulis Angga Kusuma Dawami, yang ditulis atas dasar pemikiran tentang adanya sebuah seni visual di Indonesia yang hari ini banyak digunakan oleh desainer yang berbasis digital. Seni Visual ini membentuk budaya yang telah berumur lebih dari satu dekade disebarkan melalui komunitas, dan menjadi bermanfaat secara ekonomi maupun sosial. Seni visual itu adalah Wedha’s Pop Art Portrait.

Buku WPAP dan Mistik Kesehariannya
Cover Buku WPAP dan Mistik Kesehariannya Angga Kusuma Dawami

Buku ini berangkat dari Penelitian fenomenologi ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman hidup Wedha dan masyarakat pendukungnya terhadap eksistensi WPAP yang dicetuskan oleh Wedha Abdul Rasyid pada Desember 2007, sebagai salah satu Pop Art yang lahir di Indonesia.

Baca juga:  Bentuk Estetik pada Seni

Seni Pop, merupakan seni yang berkembang di Amerika yang lahir akibat tidak puas terhadap berkembangnya gaya abstrak-ekspresionisme yang melanda kaum akademis dan menempati klas yang besar saat itu. Karya-karyanya dianggap tidak memberikan sumbangan apapun terhadap masyarakat. Maka pandangan para tokoh penentang abstrak ekspresionisme Amerika seperti Andy Warhol, Leo Licstentein, Claes Oldenburg, Janes Rosenquist mencoba melemparkan karya pop-nya terhadap publik secara besar-besaran lewat karya grafis kontemporernya, sebagai reaksi tajam dan tidak puasnya terhadap gaya ekspresionisme yang melanda budaya Amerika saat itu.

Seni pop mengingatkan kita pada seni realitas (bukan realisme), seni pop mengingatkan kita pada lingkungan, mengingatkan kita pada sesuatu yang telah akrab dengan kita namun sudah kita lupakan, seni pop mengingatkan kita tentang sesuatu yang pernah  terlupakan dari sekian banyak hal yang mungkin dapat diangkat sebagai satu kesenian yang dasyat, dan akan masih bermanfaat bagi kehidupan. Seni pop merangsang sebab dan akibat yang terjadi, dengan cara menyajikan sesuatu yang telah lama dilupakan.

Baca juga:  Desain Komunikasi Visual (DKV) sebagai Peran Perancang Komunikasi

Seni pop disisi lain mempropagandakan sesuatu kepada masyarakat, sesuatu yang berguna dan telah lama terlupakan seperti; sisi lingkungan yang kumuh, polusi pabrik yang menghantui kematian, kehidupan masyarakat kecil yang terlupakan, sejarah yang terlupaka, dan hal-hal yang lain dan dianggap terlupakan.

Kaum Pop Art mengingatkan kembali fenomena tersebut dalam bentuk kesenian. Sayangnya kesenian mereka justru dianggap sebagai pelecehan terhadap eksistensi dan kemapanan sosial. Kesenian yang disajikan kadang dianggap sebagai suatu kesenian yang arogan, karena sifatnya yang secara realitas mencoba memberi kritik tajam  terhadap pemerintah yang sedang berkuasa, ataupun golongan klas eksekutif tertentu. Gilirannya karya-karya mereka dianggap mengancam stabilitas sosial atau apa istilahnya, padahal mereka sekedar mengingatkan sesuatu yang terlupakan dan penting untuk kehidupan.

Wedha, melalui WPAP, menjadi di kenal oleh masyarakat secara luas, walaupun sebelumnya sudah dikenal melalui ilustrasi-ilustrasinya di Majalah HAI, dan Novel “Lupus” yang terkenal di tahun 1980-an. Gaya melukis baru yang dikenalkan Wedha, WPAP merupakan sebuah hal baru bagi masyarakat awam yang membuat seni rupa memiliki corak yang berbeda dari dunia seni rupa yang sebelumnya, dimana banyak seniman yang mucul benar-benar dari dunia kesenirupaan. Walaupun menggunakan teknik digital pada pembuatan dan perkembangannya, WPAP oleh Wedha mampu membuat keterkejutan baru terhadap dunia seni visual di Indonesia.

Baca juga:  Resume Diskusi di Ruang Cyan: Apakah Desain Harus Bersandar pada Teori?

Buku ini menarik dibaca, dan akan mampu menjadi rujukan alternatif yang ditawarkan sebagai salah satu paradigma dalam penulisan karya ilmiah ataupun karya populer. Sehingga Buku ini direkomendasikan sebagai salah satu buku pegangan dalam pembelajaran tentang fenomena kesenian yang berkembang saat ini. Pop Art, mengingatkan kita pada seni realitas, dan mengingatkan kita pada sesuatu yang telah akrab, namun kita lupakan.

Surakarta 16 Agustus 2021

Prof. Dr. Dharsono, M.Sn.

Guru Besar Bidang Ilmu Estetika Seni

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.