Perbedaan Seni Rupa Murni dan Visual Art

MIRMAGZ.com – Ekspresi seni merupakan praktek seni yang telah lama ada semenjak manusia ada di dunia. Ekspresi seni tertua, terutama seni rupa, bisa terlihat dari lukisan-lukisan gua yang ada di berbagai penjuru dunia. Bahkan di Indonesia, ekspresi seni pada gua terdapat di Sulawesi sampai Irian /yang memunculkan simbol tangan manusia, simbol lingkaran, garis-garis yang tegas, manusia kadal, dan berbagai ekspresi secara visual lainnya (Yuliman dalam Hasan, 2001:11-13).

 

Baca juga:  Bentuk Estetik pada Seni

Berkembang menuju bentuk-bentuk seni, yang dilegitimasi, ditetapkan oleh kelompok seni tertentu yang memberikannya label bahwa ini merupakan seni rupa. Ekspresi seni pada gua, candi, yang dapat terlihat hingga kini dengan menggunakan indera mata, merupakan bagian dari seni rupa pada wilayah visual art.

Pembahasan tentang Raden Saleh, yang merupakan tonggak seni rupa modern di Indonesia menjadi pem-babak-an baru pada seni rupa wilayah fine art. Menciptakan tradisi seni rupa yang mengacu pada pemikiran-pemikiran Barat; estetika, galeri, kritikus, dan istilah pada keilmuan Barat.

Pada masa setelah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, istilah seni rupa terbagi sepertinya menjadi lebih tidak terjelaskan pada wilayah masyarakat awam, bahwa seni dari legitimasi ilmu Barat, merupakan seni rupa modern.

Baca juga:  Cara Mengkaji Karya Seni Rupa: Estetika-Mayer Schapiro dan Kritik Seni-Feldman

Aliran-aliran pada seni rupa modern yang dahulu menjadi dominan, dibawa oleh Belanda untuk bisa saling belajar tentang seni. Menghasilkan Mooe Indie, Realisme, PERSAGI, dan sekolah seni rupa di Indonesia.

Pada sisi lain, seni visual yang ada di Nusantara jauh sebelum Belanda datang, menjadi bukti bahwa istilah seni rupa, tidak hanya dari fine art, tidak serta-merta menjadi domain yang sering diagungkan oleh publik awam.

Pada akhirnya, Jim Supangkat dan Sanento Yuliman Hadiwardoyo, mencoba untuk memetakkan sebuah peta seni rupa yang berasal dari hirarki ilmu pengetahuan Barat dan seni rupa yang berasal dari masa lampau Nusantara.

Baca juga:  Mengapa Seni Ada dalam Keseharian?

Istilah seni rupa di Indonesia sekurang-kurangnya terbagi menjadi dua kelompok pemikiran (Supangkat, 2001: viii);

  1. seni rupa yang berarti fine art, seni yang memiliki wacana pada kelompok tertentu yang memahami seni, seperti: seni lukis, seni patung, seni grafis. Fine art, yang berangkat dari pemikiran Plato (500 SM) sejak masa Renaissance (Abad ke-15) dan berkembang hingga kini; dan
  2. seni rupa yang berarti visual art, seni visual yang mana lebih dulu ada dan usianya jauh lebih tua dari ilmu pengetahuan tentang fine art itu sendiri. Kerancuan istilah ini mulai dipisah oleh Jim Supangkat dan Sanento Yuliman, guna meluruskan dua kutub pemikiran yang banyak menjadikan strata-strata pada seni rupa di Indonesia dan menjadi dialogis menghiasi pemikiran seni rupa di Indonesia.

Banyak anak kandung dari visual art yang lahir seni rupa dalam bentuk yang begitu beragam, bercampur dengan pengetahuan yang ada di masyarakat, tradisi, bentuk seni lain yang estetik, dari fine art, membentuk tradisi seni baru, namun tidak pernah dicatatkan, dilegitimasi pada tradisi dan sejarah seni rupa di Indonesia.

Baca juga:  Ombak Perubahan: Seni dalam Gelombang Kekinian

Status seni dalam sebuah karya merupakan hal yang relatif sebetulnya, untuk mengkategorisasi sebagai seni yang lain atau seni sebagai sebuah kerajinan (Harrison, 2003: 78). Sepertinya dikotomi tentang seni atas dan seni bawah yang dipikirkan oleh Sanento Yuliman, bisa menggambarkan bagaimana seni bawah terdapat gejala-gejala seni yang tidak diperhatikan sebagai bagian dari perkembangan seni rupa di Indonesia dari wilayah seni visual (visual art).

Melalui industri 4.0, kerja karya seni (work of art) pada seni visual tidak terbendung penyebarannya, ekspresi seninya begitu beragam, bahkan wacana keilmuan seni visual terus menerus dikembangkan sesuai dengan jiwa jaman yang semakin disruptif.

Penggunaan teknologi digital, kemudahan mendapatkan informasi, menjadikan seni visual dalam bentuk desain, masuk wilayah visual art dapat spontan tersaji di berbagai platform di dunia daring.

Pustaka:

Harrison, Sylvia. 2001. Pop Art and the Origins of Post-Modernism. New York: Cambridge University Press.

Yuliman, Sanento. 2001. Dua Seni Rupa: Serpihan Tulisan Sanento Yuliman. Jakarta: Yayasan Kalam

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.