Estetika Seni: Sebuah Sejarah Singkat dari Martin Suryajaya

Ilustrasi seni dalam sehari-hari

MIRMAGZ.com – Penyebutan “Estetika Seni” memiliki sejarah panjang dalam penyebutan istilahnya. Pemikir, kritikus seni Indonesia-pun, banyak yang harus berusaha sebaik mungkin dalam memperhatikan seni-seni yang bergejala, dan mungkin menjadi sentral pemikiran seni di Indonesia. Ditambah kehadiran seniman-seniman yang memang memiliki akar dari pemikiran dari Barat.

Teori-teori seni yang muncul juga akhirnya, mengadopsi apa yang Barat katakan. Namun disinilah sebenarnya pemikiran seni tentang Indonesia sendiri mengalami pencariannya sendiri. Sebelum ke sana, mari kita lihat bagaimana Sejarah Estetika Seni yang dibahas oleh Martin Suryajaya berkaitan dengan pemikiran Estetika Barat.

Semua dimulai dengan menggunakan pemikiran estetika klasik. Estetika Klasik merupakan reaksi atas bentuk-bentuk seni yang merupakan kerja seni itu sendiri. Terlepas dari itu, istilah Estetika sendiri merupakan istilah yang dibuat oleh Alexander Gottlieb Baumgarten di abad ke-18 dari Jerman untuk menunjukkan sensasi indrawi pada manusia, terutama pada seni lukis dan seni visual.

Estetika Klasik

Bentuk estetika sendiri bisa ditelusur lebih jauh pada abad ke 4-5 SM saat Yunani. Gagasan tentang Seni, Estetika Klasik, estetika tentang Plastisisme. Pendekatan paling awal pada estetika. Terdapat sekurang-kurangnya 3 (tiga) tesis dalam estetika ini:

  1. Tesis pertama, masalah seni, adalah persoalan teknik. Hal ini berpengaruh sampai sebelum era Romantik. Kepercayaan terhadap masalah seni tentang teknik, dalam proses berkarya, seniman sebelum berkarya, ada kemampuan yang harus dipelajari oleh seniman, dengan teknik tertentu, ilmu pertukangan tertentu yang memungkinkan untuk menciptakan karya seni. Karya seni pertama-tama bukan urusan ilham, namun dipelajari dengan displin ilmu tertentu. Sifatnya rasional, seni merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, seni bukan ada diluar dari ilmu pengetahuan, ada sains seni.
  2. Tesis kedua, seni sebagai mimesis, penyalinan terhadap kenyataan. Plato, Aristoteles, dan pemikir Yunani Kuno mepermasalahkan seni, adalah bagaimana manusia menyalin dunia ke bentuk seni. Kata kuncinya adalah penyalinan.
  3. Tesis ketiga, seni dengan masyarakat, orang Yunani Klasik, melihat bagaimana seni ada kegunaannya terhadap masyarakat. Misalkan karya seni membangun moral masyarakat, maka ini bisa dikatakan indah. Persoalan sejauh mana punya daya persuasif terhadap masyarakat untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Seni mengajari sesuatu, yang ini merupakan pengandaian estetika Yunani Kuno, sampai abad pertengahan.

Konstruksi pemikiran estetika ini berkembang, di era Yunani Kuno, sampai abad pertengahan, awal abad 18. Peran seni untuk membangun sesuatu. Evaluasi estetis-nya bercampur pada evaluasi penggunaan, evaluasi secara bentuk. Persoalan yang kental pada pemikiran ini adalah: teknik, mimesis, dan moral.

Estetika pada Romantisisme

Kemudian muncul Romantisisme, yang merupakan gerakan pikiran tidak hanya pada seni, yang bergerak pada berbagai mahzab aliran sosial, kajian sosial. Intinya adalah seni merupakan hasil dari inspirasi yang sifatnya irasional. Inspirasi entah dengan apapun, yang bisa menghasilkan seni yang diluar dari apapun. Proses berkesenian yang menekankan pada inspirasi, ide, pemikiran dari si seniman, atau pembuat seninya.

Seniman, hampir seperti juru bicara dari Ilahi dari sosok seniman pada era romantik. Akhirnya, seni sebagai mimesis itu bergeser, dari peniruan terhadap alam, menjadi tersentral pada si seniman. Seni, Karya Seni, merupakan refleksi dari kegelisahan batin dari si senimannya. Bukan dari alam, yang mempengaruhinya namun justru dari dalam seniman. Seniman merupakan pribadi yang jenius, yang dipercaya sebagai pembawa wahyu Tuhan. Misalkan di Indonesia ada Sudjojono dengan konsep “Jiwa Ketok”-nya.

Karya seni cenderung dilihat, secara langsung tidak berkaitan dengan hubungan dengan masyarakat. Sejauh mana, ekspresi jiwa si seniman itu autentik, ini yang kemudian dievaluasi sebagai karya yang baik. Hal ini merupakan tonggak penting dari Estetika Modernis, yang berakar dari estetika romantik. Semakin berguna semakin baik, misalkan Arsitektur, yang lebih dianggap tinggi ketimbang lukisan.

Estetika pada Post-Romantik

Pada periode akhir abad 19, Romantik pecah ke dalam 3 gerakan estetik. Turunan pertama adalah Estetisme, sebuah gerakan seni untuk seni, ini merupakan varian dari Romanitisisme, karya seni merupakan suatu yang berdiri sendiri, dengan melepas dari urusan kegunaan. Hal yang indah itu ngga mungkin berguna, hal yang berguna ngga mungkin indah. Muncul dialektika, yang murni, yang terapan. Semakin tidak berguna, semakin disebut sebagai karya seni. Penekanannya ada pada evaluasi dari kritikus seni yang tanpa pamrih, kritikus tidak boleh memiliki kepentingan terhadap karya seni. Ini merupakan kepercayaan untuk mengevaluasi seni, dan berkaitan dengan estetisme. Ada dimensi sosial dan kegunaan yang dilepaskan. Bahwa karya seni ada bagi dirinya, bukan bagi masyarakat atau konteks sosial tertentu pada abad 19.

Turunan kedua dari gerakan Estetika Romantis, adalah Ekspresivisme, John Ruskin, inti dari ekspresivisme, keindahan karya seni adalah ekspresi dari jiwa seniman. Keindahan karya seni yang indah yang bisa dirasakan, yang bisa dirasakan adalah jiwa si seniman itu sendiri. Sejauh mana si jiwa seniman itu autentik, dan bergantung pada jiwa si seniman, dan ini ada di Sudjojono.

Turunan ketiga adalah Formalisme. Aliran formalisme, bahwa evaluasi estetik, adalah evaluasi merupakan komponen karya dari karya seninya. Pengingatan terhadap karya seni, merupakan tidak sah, karena melibatkan psikologis terhadap karya seni. Aliran ini hanya percaya pada persoalan bentuknya saja. Kita melihat komposisi dalam lukisan, warna, garis, bidang, dan unsur-unsur seni rupa. Seperti Clive Bell, seluruh unsur karya seni yang ada diluar bentuk, diabaikan. Ini yang pemurnian yang ada pada bentuknya saja. Mengabaikan kontek sosial, dimensi psikologis yang biasa muncul ketika mengamati karya, dan yang lain sebagainya.

Baca juga:  Definisi Design Thinking dan Prosesnya

Formalis ini yang melandasi sebagian besar dari pendekatan post-modern estetika. Sir John Gilbert. Dialogisnya adalah seni untuk seni dan seni sebagai bentuk formal. Kita harus menganalisis antara karya dengan medium/wahana-nya. Apabila melihat karya lukisan, analisisnya menekankan sejauh mana karya itu bisa mengafirmasi ke-khas-an dari bidang gambar. Mengkritik lukisan yang mencoba untuk di kritik, memuji karya-karya Pollock, memuji dua dimensionalitas.

Ketika pertama, modernisme identik dengan ke-khas-an wahana seni. Bahwa seni lukis itu harus setia ciri khas dari wahana dua dimensinya. Lukisan yang dihasilkan, harus mengakui dengan teknik lukisan ada pada bidang gambar.

Dan yang kedua tentang distingsi seni yang berlaku keras, dimana seni dan produk kerajinan populer dibedakan, kemudian direproduksi secara massal, tanpa melakukan perubahan dalam seni dari segi bentuk. Maka, muncul seni murni dan terapan diskusi ini ada pada abad-17. Seni modern ini merupakan diskusi keras tentang seni murni dan seni terapan. Distingsi ini diteruskan selama era modern, antara seni dan kits. Modernisme mengacu pada ke-khas-an wahana dan distingsi seni.

Ketika paradigma modernisme tidak menjelaskan mengapa karya-karya Warhol layak disebut sebagai seni, dan baik secara estetik. Ini merupakan permasalahan dalam pemahaman estetika modernisme, yang berujung pada kemandeg-an tentang estetika seni itu sendiri pada era modern.

Estetika pada Post-Modern

Pop Art dan Gerakan Seni Konseptual merupakan musuh besar pemikiran dari estetika modern. Bukan hanya wahananya, namun juga bergerak pada masalah seni dan wahana seni di tahun 1960-an. Problem-problem yang menyebabkan pemikiran estetika modern berhenti, menjadikan pemikiran tentang estetika seni menjadi lebih meluas.

Misalkan, pendekatan institusional, Arthur Danto, yang cenderung melihat masalah keindahan bukan hanya kekhasan wahana, atau benda-benda sehari-hari. Kemudian muncul pertanyaan, “Bagaimana dong cara mengevaluasi pada karya seni?”

Danto menekankan pada hubungan sosial, pendekatan kelembagaan, sebenarnya adalah hubungan sosial. Karya seni bukan karena ada dibawa oleh ke-khas-an wahana. Sebuah benda menjadi karya seni, karena ada jejaring sosial yang membuatnya disebut sebagai karya seni.

Karena ada interaksi antara penulis rupa, jurnalis seni, publik seni, yang semua berdiskusi menjadi karya seni, maka ada konvensi karya seni. Bukan masalah instrinstik dari benda itu sendiri. Muncul kecenderungan baru, yang menandai banyak tulisan, uraian estetika sampai hari ini.

Kesadaran bahwa karya seni, pertama-tama dilihat sebagai semacam simbol dalam jalinan hubungan sosial yang panjang.

Danto bilang “Kita tidak akan melihat sebuah benda sebagai karya seni, apabila kita tidak memiliki penafsiran tentang seni, pengalaman seni, diskusi seni di dalamnya.

Karena orang tersebut tidak memiliki pembacaan tradisi seni, konteks menjadi penting dalam estetika yang ditekankan oleh Danto. Setelah Danto, muncul penggalian dalam evaluasi estetika. Karya seni hubungan estetika relasional, karyanya adalah objek yang sedang dilakukan. Karya seni tidak lebih dari hubungan sosial. Penekanan ini yang mendorong praktek estetika yang partisipatoris.

Orientasi estetika partisipatoris adalah mengubah hubungan sosial yang baru, dan meninggalkan hubungan sosial yang lama. Adanya sesuatu yang baru, dan ini dipraktekkan dengan melibatkan warga masyarakat awam. Ada unsur bisa dibilang, post-avantgrade. Kemudian ada insting untuk menjadi pemimpin dari sebuah karya seni yang terdepan, estetika penyadaran. Estetika ini yang dipraktekkan di Indonesia oleh Mulyono, orientasi untuk menjadi lokomotif dari perubahan sosial. Momen ini berperan sebagai seni relasional awal.

Post-avantgrade, berhubungan sosial, dimana sebuah bentuk seni bukan menempatkan diri sebagai juru selamat, yang membuat sesuatu yang baru. Ini menjadi kecenderungan baru, seniman bukan menciptakan karya, kemudian juga bukan agen perubahan, lebih sebagai organizer, pengatur dan hadir di masyarakat secara bersamaan, bersama masyarakat untuk mewujudkan benda. Apabila ada benda, itu hanya merupakan manifestasi dari bentuk karya seni yang sesungguhnya.

Kembali ke Indonesia

State-the-art dari diskusi estetika seni terdapat pada banyak pemikir seni sekaligus seniman. Sudjonono, dia mengartikulasikan posisi yang cenderung ekspresif, dengan pembacaan kebangsaan di Indonesia dengan kondisinya. Beda akar historisnya, formulasi yang dihasilakan serupa dengan John Hopskin.

Pada era 70-80an, ulasan-ulasan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), kita bisa melihat uraian tentang karya seni, menggunakan pendekatan formalitas, cenderung mengabaikan konteks sosial dari karya, hanya berkecimpung dari estetika formal. Estetika relasional berkembang di barat, Prancis, ngomong tentang praktek teater partisipatoris, di Indonesia diterapkan. Ada ke-khas-an pembacaan sejarah dari kalangan penulis-penulis seni di Indonesia.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.