Pendidikan: Menjadi Diri, Membentuk Dunia

MIRMAGZ.com – Apa sebenarnya arti pendidikan bagi manusia? Apakah sekadar soal gelar dan ijazah, atau lebih dalam dari itu—sebuah proses menjadi manusia seutuhnya?

Hari ini, kita hidup di tengah peradaban yang dengan gegap gempita menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mencari pengakuan. Ijazah, gelar, sertifikasi, semua menjadi simbol keberhasilan. Namun, apakah pendidikan sesederhana itu? Apakah ia sekadar tiket masuk ke dunia kerja atau panggung sosial?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita menyelami kembali hakikat pendidikan. Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya adalah jalan pembebasan. Ia bukan instrumen penjinakan, tapi sarana untuk membangkitkan kesadaran kritis. Pendidikan bukan untuk membuat kita patuh, tapi untuk menggugah kita agar tak tinggal diam atas ketidakadilan.

Baca juga:  Resume Diskusi Ruang Cyan: Pendidikan Berbasis Siswa (Progresif)

Namun, pendidikan juga bukan semata-mata urusan sosial dan politis. Ia adalah perjalanan pribadi, suatu proses mengendap dalam diri. Di sinilah konsep Bildung dari Hans-Georg Gadamer menjadi penting.

Bildung: Pendidikan Sebagai Pembentukan Diri

Bildung bukan sekadar “pendidikan” dalam arti teknis. Ia adalah proses panjang—perlahan, mendalam, dan penuh refleksi—dalam membentuk keutuhan diri manusia. Dalam istilah Gadamer, Bildung adalah proses pembudayaan jiwa. Ia tidak bisa diajarkan seperti rumus matematika, karena Bildung tumbuh melalui pengalaman, dialog, dan penafsiran atas dunia.

Konsep ini lahir dari tradisi panjang, dari Yunani Kuno, pemikiran Kant dan Hegel, hingga mistisisme Jerman. Bildung menyentuh aspek intelektual, moral, estetika, bahkan spiritual. Ia adalah cara manusia menjadi dirinya sendiri, dalam keaslian dan kebebasan.

Yang menarik, Bildung bukan soal hasil akhir. Ia bukan tujuan yang bisa dicapai dalam lima tahun kuliah atau satu lembar ijazah. Ia seperti merawat taman: proses yang terus berlangsung, tak pernah selesai. Karena itu, Bildung menolak pemahaman pendidikan sebagai sesuatu yang teknokratis, instan, dan berorientasi pasar.

Baca juga:  Menemukan Diri dalam Kajian Seni Rupa dan Desain

Dalam konsep Bildung, pendidikan adalah hidup itu sendiri. Ia terjadi saat kita membaca, berdialog, merenung, dan bahkan ketika kita gagal. Ia muncul dari tanya yang tulus, dari usaha memahami makna, dan dari keberanian untuk berubah.

Menjadi terdidik, dalam arti Bildung, berarti menjadi manusia yang mampu menafsirkan dunia dan memberi makna pada hidupnya. Ia bukan hanya tahu, tapi bijak. Bukan hanya mengerti, tapi menghidupi. Ia bisa membumikan teori tanpa kehilangan kedalaman. Ia mampu berpikir kritis tanpa menjadi sinis.

Maka, jika hari ini kita merasa terasing dari makna sejati pendidikan, mungkin kita perlu kembali bertanya: Untuk apa kita belajar? Apakah hanya untuk pengakuan, atau untuk menjadi versi terbaik dari diri kita? Di balik gemerlap gelar dan ranking universitas, pendidikan sejati adalah proses menjadi manusia. Sebuah perjalanan sunyi yang mengubah batin, membentuk cara pandang, dan menyusun keberanian untuk menghadapi dunia.

Baca juga:  Teori Hermeneutika Hans-Georg Gadamer

Vladimir Putin mengunjungi sebuah sekolah di Kurgan pada 2 September 2013. Sumber (Wikipedia/Kremlin.ru).

Itulah Bildung. Itulah pendidikan. Contoh nyata dari nilai Bildung bisa kita temukan dalam sosok Likas Tarigan, istri dari Djamin Ginting, seorang pejuang dan pendidik dari Tanah Karo, Sumatera Utara. Likas tidak pernah menyandang gelar akademik tinggi, namun hidupnya adalah cerminan pendidikan sejati.

Di tengah pergolakan revolusi dan keterbatasan hidup, ia tetap konsisten mendidik anak-anaknya, menanamkan nilai kejujuran, keteguhan hati, dan cinta pada tanah air. Ia belajar dari pengalaman, dari penderitaan, dari kehilangan. Dalam dirinya, Bildung tidak datang dari ruang kelas, melainkan dari keberanian untuk tetap berpikir, bertindak, dan menjaga nurani di tengah ketidakpastian hidup. Di usia senjanya, Likas menjadi teladan, bukan karena deretan prestasi formal, melainkan karena kebijaksanaan yang ia tumbuhkan sendiri melalui laku hidup yang reflektif dan penuh makna. Pendidikan seperti inilah yang sering luput dari perhatian sistem formal: pendidikan yang tidak bisa diukur dengan nilai rapor, tapi berdampak panjang dalam membentuk watak dan peradaban.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp
Telegram

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://mirmagz.com/2024/05/27/selamat-ulang-tahun-saint-petersburg/?utm_source=webpushr&utm_medium=push&utm_campaign=9266

http://MIRMAGZ.com -sebelum seseorang menulis sebuah ulasan tentang suatu buku, perlu untuk mengerti mengapa dia melakukannya. #caramenulisresensi

https://mirmagz.com/2023/01/11/cara-menulis-ulasan-buku-yang-mudah-dan-menyenangkan/

Load More
anz.prjct
Medusaphotoworks
logo-lyubov-books
Lyubov Books - Toko Buku Online
Buku Terbaru WPAP dan Mistik Kesehariannya

Most Popular

Get The Latest Updates

Subscribe To Our Weekly Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.