MIRMAGZ.com – Kita sering berandai-andai bahwa hidup akan lebih indah jika semua masalah hilang. Tidak ada beban, tidak ada drama, tidak ada kejutan yang bikin dada berdebar. Tapi, coba bayangkan hidup tanpa masalah. Apakah itu benar-benar hidup? Atau justru sebuah kekosongan yang membosankan?

Sejak pertama kali kita lahir, dunia sudah membentangkan panggungnya. Latar belakang keluarga, lingkungan, dan pertemuan dengan berbagai orang membentuk kita—dan bersama itu, lahirlah masalah-masalah pertama. Masalah yang sederhana, seperti belajar berjalan tanpa terjatuh, hingga yang kompleks, seperti mengambil keputusan besar dalam hidup. Dan percaya atau tidak, masalah akan terus menemani kita… sampai nafas terakhir, kematian.
Masalah itu abadi. Diselesaikan, ia berganti rupa. Diabaikan, ia menumpuk menjadi bom waktu. Tidak ada pilihan bebas masalah—yang ada hanya cara kita menghadapinya. Menyadari hal ini bukanlah sikap pesimis, justru ini adalah titik awal dari kebijaksanaan: bahwa hidup memang dibangun dari masalah-masalah yang kita lalui.
Di sinilah menariknya konsep membangun ketiadaan. Ketiadaan di sini bukan berarti nihil atau menyerah, tetapi ruang hening di dalam diri yang tetap ada walau masalah datang silih berganti. Kita bisa menyelesaikan masalah sambil tetap memelihara jarak batin, agar kita tidak larut habis dalam arusnya. Ketiadaan adalah tempat kita menyandarkan diri ketika hidup terlalu bising.
Dan lalu, melangkah. Sebab, hidup ini pada dasarnya adalah serangkaian langkah—besar atau kecil, ringan atau berat. Kadang kita tergoda untuk menunda melangkah, menunggu semua masalah selesai, atau menanti masa depan yang tampak cerah. Padahal, masa depan tidak akan datang jika kita tak mengayunkan kaki hari ini. Melangkah bukan berarti semua sudah jelas, tapi karena kita percaya pada proses yang kita jalani.
Jadi, jangan takut pada masalah. Jangan menunggu segalanya sempurna baru berani bergerak. Hidup yang penuh masalah bukan berarti hidup yang gagal—malah sebaliknya, itu tanda bahwa kita sedang benar-benar hidup. Karena di antara masalah, ada pertumbuhan. Di antara langkah, ada pembentukan diri. Dan di antara ketiadaan, ada ruang untuk kita menemukan arti.
Mari melangkah. Bukan untuk menghindari masalah, tapi untuk merayakan hidup yang—justru karena masalah-masalah itulah—menjadi begitu berwarna.

Pemikir, peneliti, penulis, dan pengajar Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada bidang Apresiasi Estetika Visual, telah menyelesaikan gelar Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.





