MIRMAGZ.com – Setiap akhir tahun sejak 2023 lalu, saya bergumul dengan buku-buku yang dapat diunduh gratis pada laman publishers for Palestine. Tujuannya jelas, untuk mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan serta kebrutalan genosida Israel dan sekutunya melalui literasi. Menjadi seorang pembaca artinya menjadi sosok yang belajar dan bertanggung jawab atas apa yang ia baca. Ada pesan-pesan moral di sana, ada harapan yang dititipkan untuk disebarluaskan. Saya termasuk satu dari sekian pembaca yang tergerak untuk menulis dari apa yang telah saya baca untuk dibagi. Jika pembaca tulisan ini kelak pun tidak membaca buku-buku dari penulis Palestina, setidaknya naluri mereka pernah disentuh oleh kisah sebuah negeri yang telah berjuang begitu lama untuk dapat bebas dan sampai hari ini, negeri itu masih berjibaku dengan kenyataan pahitnya.
Faktanya, Palestina adalah salah satu negara yang mengakui kedaulatan Indonesia pada era akhir Perang Dunia II. Namun sampai hari ini, kita masih belum bisa menyaksikan mereka sebagai manusia bebas layaknya kita. Rakyat Palestina khususnya di Gaza dan Tepi Barat masih dihujani misil-misil Israel. Tidak ada tempat aman bagi warga sipil Palestina. Penjajahan masih terus berlanjut. Semua tempat adalah neraka.
Ketika awal kuliah dulu, saya masih terlalu naif dalam memahami peristiwa penjajahan ini. Sempat bingung juga, apakah jangan-jangan ini memang perang antar agama? Namun (untungnya) beranjak usia saya, makin meningkat pula keingintahuan akan kebenaran. Seingat saya, saya mulai membaca berita internasional terkait perjuangan Palestina. Dan semakin saya membaca, pertanyaan-pertanyaan—bukannya berakhir malah justru semakin tak terbendung.
Satu di antara pertanyaan itu belum terjawab sampai saya akhirnya lulus kuliah dan mulai melupakan buku-buku kuliah, serta semua isu Timur Tengah yang selama ini saya geluti di universitas karena sibuk belajar menjadi ibu muda. Satu dari pertanyaan itu adalah; mengapa rakyat Palestina tidak pernah menyerah?
Sepertinya, mereka sangat kuat, tidak mudah goyah. Padahal, mereka telah tercabik-cabik, terhantam misil, terenggut kebahagiaannya, bertahun-tahun. Dari generasi ke generasi mereka telah dijajah bahkan sejak era zionis Eropa, Palestina telah dirampas hak martabatnya. Namun, sampai detik ini saya menulis tentang mereka, orang-orang Palestina tidak menyerah. Mereka tidak pernah menyerah.
Pertanyaan selanjutnya menguatkan keingintahuan pertanyaan pertama; apa yang membuat mereka sedemikian hebat bertahan? Hal apa yang menjadikan mereka sanggup menahan beban dahsyat ini? Keyakinan apa yang mereka pegang? Bagaimana mereka bisa menjadikan diri mereka kuat setelah dibantai, dihancurkan, namun mereka bisa kembali bangkit?
Jawabannya saya temukan dari buku-buku, baik yang ditulis oleh penulis Palestina sendiri maupun pihak luar seperti pandangan dari pakar atau ilmuwan, dan bahkan dari eks-zionis seperti Gilad Atzmon. Mulai dari kisah keluarga Ahed Tamimi, sampai yang ditulis oleh mantan Menteri Kebudayaan Palestina, Atef Abu Saif dalam karyanya “Don’t Look Left, A Diary of Genocide”. Semuanya memaparkan bagaimana rakyat Palestina begitu kuat bertahan, bagaimana mereka bisa ‘mengubah’ kematian menjadi kehidupan.
Siapa yang mampu menumbuhkan lagi pepohonan hingga melebatkan kembali hutan-hutan yang telah digundul, menyusun kembali kehidupan yang hancur kalau bukan pemilik asli wilayahnya? Tidak mudah untuk menumbuhkan pohon zaitun. Untuk menunggunya mulai berbuah diperlukan waktu kurang lebih lima tahun. Dan untuk membiarkan akar-akarnya menghunjam ke tanah dengan kuat tentu lebih lama lagi. Baik pohon zaitun mau pun pohon kaktus, keduanya tumbuh subur di Palestina. Kedua pohon ini disimbolkan sebagai bentuk resiliensi rakyat Palestina terhadap kebrutalan yang mereka alami selama lebih dari 100 tahun. Kekuatan akar dan usia pohon zaitun yang panjang bahkan sampai 5.000 tahun pernah ditemukan di tanah para nabi ini, Pohon zaitun melambangkan cinta orang-orang Palestina terhadap generasi penerus mereka dan bukti bahwa mereka mengurus dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi terhadap tanah kelahiran dan bangsa mereka.
Tidak seperti para zionis, penjajah, perampas, pembunuh itu (baca:Israel dan sekutunya) dengan mudahnya menumbangkan dan menghancurkan lahan-lahan perkebunan pohon zaitun. Ya, mereka yang tidak memiliki keterikatan batin dengan suatu wilayah atau tempat biasanya akan mudah menghabisi/merusak. Sebab, mereka adalah pencuri, mereka adalah pendatang yang tak memiliki jalinan perasaan apa pun terhadap apa yang mereka rusak/binasakan.
Resiliensi itu literasi dan kreativitas
Hampir dari semua buku yang saya baca tentang perjuangan rakyat Palestina, saya menemukan peristiwa-peristiwa di mana kapasitas resiliensi mereka sangat tinggi, salah satunya kecakapan literasi. Berdasarkan catatan Atef Abu Saif, anak-anak Palestina tetap membuka buku pelajaran di tengah reruntuhan bangunan yang dihancurkan Israel. Mereka masih kanak-kanak. Bisa saja mereka tak pedulikan soal itu lagi, mengingat rumah mereka telah hancur. Jika malam tiba, penerangan sulit diakses. Jika tidak dengan sinar lampu dari ponsel, mereka akan menyalakan lilin dan sejenisnya. Tapi mereka tetap memilih untuk belajar, membuka buku, menganggap seakan-akan besok gurunya masih akan menanyakan; “Mana PR-mu?” Sementara itu, orang-orang dewasanya juga gemar membaca. Atef memang sosok yang berpendidikan tapi dia juga menceritakan bagaimana dari rumah-rumah orang lain yang hancur itu juga ditemukan buku-buku bacaan. Dan orang-orang di sekitarnya juga mengetahui beberapa buku yang menjadi kesukaan Atef. Mereka berbincang soal buku sambil mendengar berita dari siaran radio berharap mendengar kalimat “gencatan senjata” atau semacamnya. Kehidupan perang seakan-akan tak mengganggu kenyataan bahwa orang-orang Palestina memang kebanyakan sudah melek literasi. Mereka tak sekadar bisa membaca tapi juga bernalar karena apa yang mereka lakukan (akan dipaparkan selanjutnya) sudah masuk ke wilayah kreativitas yang tak terduga. Tingkat buta huruf atau iliterasi di Palestina adalah salah satu yang terendah di dunia. Berdasarkan catatan Biro Statistik Pusat Negara Palestina (PCBS), selama tahun 2023, usia penduduk 15 tahun ke atas memiliki angka buta huruf sebanyak 2,1 %. Angka terendah di kawasan itu.Menurut Institut Statistik UNESCO, tingkat buta huruf di antara orang-orang (berusia 15 tahun ke atas) di Asia Barat dan Afrika Utara adalah 19,0% pada tahun 2022; 13,7% di antara laki-laki, dibandingkan dengan 24,6% di antara perempuan. Pada tahun yang sama, tingkatnya adalah 13,0% di dunia di antara kelompok usia yang sama; 9,7% pada pria, dibandingkan dengan 16,2% pada wanita. Tingkat buta huruf di Palestina menurun hingga 85% selama dua dekade terakhir. Tingkat buta huruf di antara penduduk Palestina (berusia 15 tahun ke atas) di Palestina menurun selama periode 1997-2023 dari 13,9% menjadi 2,1%. Angka tersebut menurun dari 7,8% pada tahun 1997 menjadi 1,1% pada tahun 2023 di antara laki-laki, dan menurun dari 20,3% menjadi 3,2% di antara perempuan selama periode yang sama.David Segarra Soler dalam “To Live, Die and be Born in Gaza” atau “Viure, Morir i Naixer a Gaza” mengisahkan resiliensi yang telah berkembang menjadi suatu kreativitas. Menurut ceritanya, selama pengeboman tahun 2009, kebun binatang kecil di Gaza menjadi saksi bagaimana hewan-hewan mereka mati. Hewan-hewan yang mati itu sebab karena dibom atau kelaparan. Ketika serangan berakhir, pemilik kebun binatang itu beserta putranya duduk berpikir. Blokade tidak memungkinkan mereka membawa hewan-hewan baru masuk ke dalam kebun binatangnya. Pada akhirnya mereka harus memikirkan nasib hewan-hewan yang tersisa ini; anjing, kucing, merpati, ayam, kuda dan keledai. Dengan kekuatan resiliensi, Abu Sabr, sang pemilik kebun binatang “menyulap” keledainya menjadi zebra. Ia menggunakan pewarna rambut untuk mengecat bulu hewan itu menjadi putih dan menambahkan garis-garis hitam. Dia juga memotong surai keledai berbentuk kuas hingga menyerupai zebra. Demikianlah zebra made in Gaza lahir ke dunia.
Mengapa Orang Palestina Tidak Menyerah?
Sejak Nakba 1948, permainan politik yang diterapkan Israel adalah penolakan pengakuan terhadap hak penduduk asli Palestina untuk mewakili mereka sendiri. Golda Meir, salah satu zionis yang mengawali pendirian negara Israel atas tanah bangsa Palestina pernah bersikeras bahwa rakyat Palestina “tidak pernah ada”. Dia mengutarakan bahwa rakyat Palestina tidak pernah ada hingga tahun 1970-1980-an. Dan masyarakat internasional, khususnya PBB dan negara-negara yang sebelumnya dijajah di seluruh dunia mulai mengakui PLO alias Organisasi Pembebasan Palestina sebagai satu-satunya perwakilan rakyat Palestina yang sah pada pertengahan era 70-an. Israel (dan Amerika Serikat tentu saja) pada akhirnya “terlambat” mengakui bahwa sebelum tahun-tahun yang disebut Meir memang ada rakyat asli Palestina. Namun demi menutup kebusukan mereka (yang mana kemudian justru semakin membuka aib mereka sendiri), hadirlah dua tuntutan. Pertama, Israel menuntut agar perwakilan Palestina (PLO) mau menyerahkan sepenuhnya hak nasional penduduk asli mereka kepada penjajah Israel. Itu artinya rakyat Palestina harus menerima kehadiran koloni Israel di pemukiman mereka, menerima legitimasi Israel sebagai koloni pemukim Yahudi yang dibangun di atas tanah Palestina yang dirampas. Dan perampasan atau pencurian itu harus diakui Palestina sebagai sesuatu yang sah. Kedua, Israel pun menuntut agar Palestina segera menghentikan perlawanan terutama perlawanan militer. Jika tidak, Palestina akan dianggap teroris. Sayangnya saya belum ada waktu untuk menuliskan bagaimana “kehidupan rakyat Palestina” sebelum kehadiran penjajah zionis Israel dan sekutunya. Sekadar untuk membuat pengetahuan bagi mereka yang termakan politik Israel. Namun, tanpa perlu mengulik sampai ke sana, siapapun tentu tak akan terima jika harus menyerahkan hak-haknya terhadap orang asing. Bukankah, tidak ada tuan rumah yang mau memberikan rumahnya secara cuma-cuma kepada tamunya? Apalagi kalau tamunya tidak tahu diri, membuat rumahnya berantakan misalnya, membawa kultur yang tidak baik. Apakah ada tuan rumah yang sampai hati melepas jati dirinya, keluarganya, rumahnya, hartanya untuk tamu asing itu?, Oh, kali ini bahkan tak pantas disebut tamu asing, melainkan Pencuri! Penjarah! Kalau ada, berarti dia sudah sinting! Orang-orang pro Israel menutup penjajahan ini dengan propaganda, memutar balikkan fakta, menyudutkan Palestina, menarasikan Israel sebagai pihak yang menjadi korban. Namun mereka butuh validasi dari Palestina, meminta Palestina untuk mengakui bahwa itu tanah Israel, meminta Palestina menghentikan perlawanan. Apakah di masa perjuangan kemerdekaan negara Indonesia dahulu, rakyatnya mau ditindas dan dijajah lantas dengan sukacita memberikan segalanya untuk penjajah? Lantas dengan serta merta menghentikan perjuangan perlawanan? Menghentikan diplomasi? Tentu tidak. Kita, bangsa yang juga pernah terjajah dan ironisnya kini dijajah oleh bangsa sendiri, pernah berkorban dan berjuang sebegitu rupa melawan negara-negara kolonial dan imperial. Rakyat Palestina pun melakukan hal serupa. Jika rakyat Palestina menyetujui tawaran kolonial Israel, itu tandanya, mereka bukanlah warga asli tanah Palestina. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Perlawanan terus bergulir. Bila Ahed kecil pernah dibui sampai dewasa, maka ada “Ahed-Ahed” lain di Palestina yang tak sekadar dibui namun juga disiksa, dibunuh, dilukai, dilecehkan, demi mempertahankan keluarga mereka, kehidupan mereka di tanah air Palestina. Dan itu masih terjadi sampai sekarang. Oleh sebab itu, jangan pernah bertanya, mengapa kok orang Palestina tidak menyerah saja? Jawaban tepat menurut saya atas pertanyaan itu adalah, “lebih baik Anda jangan bertanya begitu, karena secara logika sehat pun, manusia yang sadar akan tahu bahwa itu mustahil.” Ya, mustahil bagi Palestina untuk menyerahkan negara mereka kepada kolonial. Tidak ada ceritanya korban harus mengalah kepada penjarah. Di mana-mana, pelaku kriminal yang ditangkap dan diadili. Bukan korbannya yang harus mengalah dan menyerah. Namun, meski berjibaku di tengah himpitan sakit dan luka yang diterima, anak-anak Gaza akan tetap dalam perlindungan para orang tua mereka. Walau orang tua kandungnya telah martir, kebebasan dan kebahagiaan generasi penerus Palestina akan terus diperjuangkan dalam pengusahaan yang maksimal oleh generasi tua mereka. Misalnya, kembali pada kisah Abu Sabr dan kebun binatang kreativitasnya. Ketika ia membuka kembali kebun binatangnya, anak-anak Gaza terpukau. Bersama keluguan dan keceriaan, anak-anak itu bertamasya ke luar Gaza–Soler mengatakan; “ke Sabana Afrika, ke Padang Pasir Arab,”–maksudnya ke dunia-dunia imajiner di luar kekerasan empiris yang mereka terima sehari-hari. Soler menulis bahwa “kebenaran akan senantiasa melampaui fiksi”, saya menerjemahkannya sebagai; apapun yang terjadi di Gaza, di Palestina, orang-orangnya akan selalu berusaha untuk bisa beradaptasi dan menghadapi kenyataan dengan sebenar-benarnya. Menyulap duka menjadi suka, menyihir kematian menjadi kehidupan. Di kampung Ahed Tamimi, anak-anak Palestina bahkan menciptakan kalung-kalung dan ornamen indah dari selongsong peluru kosong bekas amunisi Israel. Sesuatu yang disebut Ahed, “Mereka (Israel) menciptakan kematian, sedangkan kami mewujudkan kehidupan”.Miranti Kencana Wirawan. Content Writer. Alumnus Kajian Timur Tengah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret. Founder dan Editor in Chief situs web Mirmagz.com. Pernah bekerja di RIA FM Sonora Network dan KOMPAS.com sebagai jurnalis kanal internasional.






